oleh

Ajiep Padindang Beri Kuliah Umum di FIB-UNHAS

Editor : Lukman Maddu-Politik, Wakil Rakyat-

MAKASSAR, BP – Anggota DPD RI/MPR RI Dr.H.Ajiep Padindang, SE.,MM, memberi Kuliah Umum di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin tanggal 29 Agustus 2018 di Aula Prof. Mattulada.

Tema Kuliah Umum yang disampaikan Ajiep Padindang adalah “Khazanah Bahasa dan Sastra Lokal Sebagai Penguatan Kearifan Budaya”.

Kuliah Umum yang dilaksanakan FIB-UNHAS juga dirangkaikan dengan Penanda Tanganan MoU antara Departemen Sastra Bugis-Makassar FIB dengan Yayasan Sulapa Eppae.

MoU ditandatangani oleh Ketua Departemen Sastra Bugis-Makassar Dr.Muhlis Hadrawi, S.S., M.Hum dan Ketua Yayasan Sulapa Eppae Jamal Andi, S.Sos., M.Si, disaksikan Pembina Yayasan Sulapa Eppae Dr.H.Ajiep Padindang, SE.,MM. dan Wakil Dekan I FIB-UNHAS Dr. Fathu Rahman, M.Hum.

MoU berisi kesepahaman antara Departemen Sastra Bugis-Makassar FIB dengan Yayasan Sulapa Eppae untuk bekerjasama melakukan Gerakan Pembelajaran Budaya Lokal di Sulawesi Selatan.

Kuliah Umum dan penandatanganan MoU dihadiri para Wakil Dekan, para Ketua Departemen, Dosen, Mahasiswa yang berjumlah kurang lebih 250 orang, Pengelola Sekolah Bugis dari Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Bulukumba, Barru dan Luwu.
Selain Ajiep Padindang, Kuliah Umum ini juga menampilkan Narasumber dari UGM yakni Dr.Cahyaningrum, M.Hum, dan Dr.Daru Winarti, M.Hum.

Dalam Kuliah Umumnya, Ajiep Padindang, menyampaikan bahwa kebudayaan daerah Sulawesi Selatan adalah segala sesuatu yang terkait dengan cipta, rasa, karsa. Dan hasil karya masyarakat Sulawesi Selatan yang memiliki kearifan yang bernilai religius.

Lebih lanjut Pendiri Yayasan Sulapa Eppae dan Sekolah Bugis-Makassar di berbagai Kabupaten di Sulsel ini menyampaikan bahwa kearifan budaya sebagai suatu kebijaksanaan yang lahir akal budi dan adat istiadat pada Masyarakat Sulawesi Selatan atau lebih spesifik pada Masyarakat Bugis-Makassar.

“Ini merupakan pembentuk kebudayaan daerah dengan segala bentuk dan jenisnya. Dengan demikian, seluruh tatanan nilai KEARIFAN Budaya Sulawesi Selatan, terbangun dan terbina melalui RITUAL yang religius. Hal ini dapat kita lihat dalam TRADISI SIKLUS kehidupan Masyarakat Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Ajiep Padindang, yang pernah menjabat sebagai Anggota DPRD Prov. Sulsel selama 4 Periode (1997-2014) lebih lanjut mengemukakan setelah 72 Tahun Indonesia Merdeka, barulah negara ini memiliki Undang-Undang tentang Pemajuan yakni UU No. 5 Tahun 2017.

Meskipun sangat terlambat tapi ini patut disyukuri karena negera ini telah memiliki payung hukum untuk memajukan kebudayaan termasuk kebudayaan lokal di dalamnya.

Penulis Buku “Pemajuan Budaya Bugis – Budaya Sulawesi Selatan” ini selanjutnya menyampaikan bahwa bahasa dalam pandangan Budaya Bugis-Makassar, tidak hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi lebih dari itu yakni pencerminan JATI DIRI, KARAKTER dan INTEGRITAS orang Bugis-Makassar.

Komentar