oleh

Ribuan Siswa SMA 2 Rantepao Turun Kejalan Tolak Putusan Pengadilan

Editor : Ashar Abdullah-Daerah, Tana Toraja-

TORAJA UTARA, BP – Sejak adanya keputusan Pengadilan Negeri Makale terhadap perkara perdata dengan nomor 2/Pdt.G/2017/PN Makale didukung dengan putusan Pengadilan Tinggi Makassar atas gugatan ahli waris Haji Ali dan Haji Samate yang memenangkan lahan pacuan kuda atau lapangan gembira, sehingga bangunan publik yang ada diatas lahan tersebut terancam digusur.
Disamping itu pemkab Toraja Utara bersama PT. Telkom Indonesia, dan Badan Pertanahan ATR Tana Toraja diharuskan membayar kerugian material sebesar 150 M, serta harus membayar kerugian immaterial sebesar Rp 500 juta rupiah.

Hal ini memicu ribuan siswa SMA Negeri 2 Rantepao, dan alummi SMA Negeri 2 Rantepao melakukan unjuk rasa di jalanan raya seputar Kandian Dullang Rantepao, serta datangi kantor DPRD Toraja Utara untuk menolak keputusan pengadilan yang memenangkan pengungatnya, Kamis (27/9/2019).

“Kami melakukan aksi damai untuk menolak putusan pengadilan yang melakukan ketidak adilan dengan mematikan keadilan di negara ini. Karena telah mengambil hak kami, juga hak-hak publik karena fasilitas pemerintah dan pendidikan, dimana fasilitas tersebut berdiri dan sudah dipergunakan selama puluhan tahun tetapi tiba-tiba dimenangkan oleh oknum penggugat . Kami berharap apa yang dimenangkan oleh oknum agar kembali dipertimbangkan kalau tidak kami akan kembali menyampaikan aspirasi dengan membawah lebih banyak massa lagi hingga pemerintah pusat dan lembaga terkait membatalkan putusan yang sangat merugikan masyarakat Toraja Utara tersebut,” ungkap koordinator aksi Yulianus Sarira. (*)

Komentar