oleh

RSUD Lasinrang Pungut Biaya Korban Bencana Palu

Lukman Maddu-Daerah, Headline, Pinrang-

PINRANG, BP – Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Begitulah nasib yang menimpa Hj Hadayang dan keluarga, korban bencana alam gempa dan tsunami Palu, Sulteng.

Setelah mengalami bencana gempa dan tsunami yang hampir saja merenggut nyawanya, dia mengungsi kesanak keluarganya di Kabupaten Pinrang. Tepatnya di Kampung Ammani, Kecamatan Mattiro Sompe.

Akibat bencana gempa dan tsunami Palu, ia sempat terbawa arus dan berhasil selamat dengan kondisi luka. Ia pun harus berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lasinrang Pinrang.

Setelah menjalani perawatan medis selama dua hari, Hj Hadayang sempat kaget setelah disodorkan tagihan biaya perawatan dan rawat inap dari pihak RSUD Kabupaten Pinrang sebesar Rp1,7 juta.

Salah seorang kerabat Hj Hadayang, Tullah sangat menyayangkan siakp pihak rumah sakit. “Kasihan ibu, akibat terseret tsunami dia sering muntahkan pasir dan lumpur. Akibat hal tersebut dia berobat ke rumah sakit Lasinrang Pinrang, hanya saja pihak rumah sakit meminta biaya perawatan, padahal sepengetahuan saya pemerintah pusat telah menginstruksikan kepada semua rumah sakit di seluruh Indonesia agar memberikan fasilitas perawatan korban gempa dan tsunami Palu secara gratis, apalagi korban telah menunjukkan identitas KTP Palu dan BPJS Palu tetapi pihak rumah sakit menolak dengan alasan BPJS-nya beralamat Kota Palu,” urai Tullah.

Meski demikian, Tullah mengaku jika kondisi korban sudah mulai membaik. “Sudah bisa diajak komunikasi walaupun masih sangat terbatas tidak seperti saat baru datang kadang memuntahkan lumpur dan pasir,” paparnya.

Humas RSUD Lasinrang Pinrang, Yanti Masud tidak menampik hal itu. Ia mengaku sudah melaporkannnya kepada pihak Direksi RSUD. “Semoga ada kebijakan,” singkatnya. (*)

Komentar