oleh

Di Usia 698

-Kolumnis

GOWA bukan hanya sejarah. Gowa juga bukan hanya cerita yang diturunkan secara turun temurun kepada anak cucu kita, tentang bagaimana sang Panglima Karaeng Galesong mampu menaklukkan beberapa kerajaan besar di Nusantara, juga bagaimana Sultan Hasanuddin memperoleh gelar Ayam Jantan dari Timur oleh Belanda. Tapi Gowa sesungguhnya adalah harga diri, tentang apa disebut membangun dan kedamaian.

Dan seperti daerah-daerah yang lain di dalam peta global, Gowa adalah lanskap negeri yang tetap mendunia. Bagaimana di abad 21 ini, torehan sejarahnya masih akan terus dikenang, tentang sebuah perdamaian yang mampu menahan derasnya darah yang mengalir serta mayat yang bergelimpangan di Ambon dan Poso. Tidakkah itu menjadikan kita berpikir untuk bisa berkata, “Sudahlah, Malino telah mendamaikan kita semua”. Dan Gowa ada di sana. Seperti yang dikatakan Raja Croesus dari Lydia, itu 2.500 tahun yang lalu, perdamaian, bukan perang. Tapi yang kita tahu, betapa pentingnya hari esok.

Karena itu, acapa kali ketika kita berbicara tentang Gowa, kebanggaan-kebanggaan yang menyeruak dalam hati semakin membuncah, yang akan membawa kita pada kenangan-kenangan Je’neberang dan Gunung Bawakaraeng, ataukah Waduk Bilibili dan Karangloe, yang airnya dinikmati oleh daerah lain di luar Gowa. Tapi kita bukanlah rakyat pemarah, hanya karena tak mendapatkan air bahkan yang menyeruak adalah sebuah kabanggaan, tentang sebuah keikhlasan untuk memberi.

Laku ini mengingatkan kita kepada Kahlil Gibran, tentang apa yang dikatakannya soal Lebanon, “Aku Orang Lebanon dan Aku Bangga itu”. Dan seperti yang dilakukan Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke 16, yang bergelar I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape, karena kecintaannya kepada Gowa dan rakyatnya, sehingga dia harus menandatangani perjanjian Bungaya. Kebesaran-kebesaran jiwa inilah yang menyungkurkan kepongahan dan keangkuhan kita semua, untuk mau berbagai bagi daerah lainnya.

Dan seperti yang dikatakan Goenawan Muhamad, masa lalu sering memenggal masa depan, dan tragedi pun terjadi. Maka ketika modernitas tak lagi bisa menembus rasa tenteram kita, apa lagi yang cadangan batin manusia, selain monumen.

Tapi kita tidaklah seperti yang dikatakan Goenawan Muhamad di masa kini. Monumen-monumen hanyalah mencabikkan rasa luka kita tentang masa lalu yang kelam, bertengger pada kepedihan hati dan penyesalan. Biarkanlah masa lalu itu bersingkap dengan dirinya sendiri, karena di masa kini, akan menjadi jawaban di masa datang, soal apa yang telah kita lakukan, pada anak negerimu.

Karena itu, berpuluh-puluh tahun belakangan ini, pada usia 698, Gowa toh memperlihatkan kepada kita semua apa yang disebutnya kecintaan kepada daerah ini. Anak-anak kita, tak boleh dialpakan dengan pendidikan, sebab di masa datang mereka harus bertarung sendiri ketika kita semua sudah tak ada lagi.

Komentar