oleh

Buruh

-Kolumnis

SIANG hari itu udara gerah, panas menyengat kulit. Para buruh berkumpul di halaman pabrik di mana mereka bekerja, merentangkan poster menuntut kenaikan upah, adanya tunjangan kesehatan, dan sedikit biaya rumah sakit.

Tapi tuan itu bergeming. Ia juga tak mundur. Ia tak ingin menaikkan upah para buruhnya, karena baginya buruh tak lebih sebuah alat produksi yang mendatangkan laba. Untuk memenuhi tuntutan mereka, dan itu berarti kalah.

Kita memang telah banyak kehilangan rasa kemanusiaan. Buruh, galibnya sebuah hewan ekonomi yang terus dipacu untuk mendatangkan untung. Kita kadang tak tahu menghitung, bahwa keringat itu harus dibayar sepantasnya.

Tapi begitu kenyataannya, para buruh akhirnya tak mendapatkan hak-haknya yang pantas. Mereka tak lebih dari roda mesin yang bergerak terus, bahwa mereka tak punya hak untuk menghitung berapa gaji mereka yang pantas ataukah sekadar bertanya, apakah untung itu selaras dengan upah bulan depan.

Padahal, di tahun ini, di tahun berikutnya, ataukah pada milenium, gaji bukan lagi sekadar penutup perut, ataukah hanya untuk dibawah ke rumah. Namun, lebih dari itu, gaji (kalau mau memang disebut begitu) laiknya punya kelebihan, untuk bisa dibawah ke toko bersama anak dan istri.

Ataukah, duduk bersama di emperan kaki lima, memakan makan ringan, menikmati sisa-sisa gaji dari pabrik, sekaligus menabung untuk masa depan anak-anak mereka.

Agaknya sekarang ini hal itu sangat tak mungkin. Toh, kalau pun mereka tetap merentangkan spanduk tentang tuntutan kenaikan upahnya, mereka juga sekarang telah dihadang dengan tingginya harga kebutuhan pokok.

Kehidupan para buruh, memang menjadi permainan harga-harga yang dilakukan tuan-tuan di sana yang kadang-kadang disebutnya penyesuaian itu. Sehingga rasa kemanusiaan terpelanting ke lorong-lorong gelap.

Maka memang benar apa yang dialami, Dani Astuti, buruh pabrik PT Samick Indonesia, Cileungsi di Bogor. Ia meradang dalam derita usus buntu. Tak ada yang bisa menolongnya, juga termasuk di mana ia bekerja.

Entah sudah berapa lama ia merasakan penyakit itu, tapi ia tak sanggup berobat, karena sebagai buruh kecil, makan dan membayar sewa kontrakan kamar saja tak cukup. Maka sakit baginya tak lebih, sebuah permainan kata-kata.

Komentar