oleh

Lentera Peradaban

-Kolumnis

SALAH satu doktrin dan etika yang tumbuh dan terpelihara di lingkungan pesantren adalah hubungan yang santun dan penuh hormat antara guru dan murid. Di lingkungan pesantren tidak ada santri yang berani melawan guru atau kiai, karena keyakinan bahwa melawan guru akan menjadikan ilmu tidak bermanfaat.

Meskipun seorang santri telah menamatkan pelajarannya di pesantren dan telah berhasil meraih gelar tertinggi misalnya profesor, atau sukses dalam bidang kehidupan misalnya pengusaha sukses dan lainnya, ketika berjumpa dengan guru atau kiai akan tetap menempatkan diri sebagai santri dihadapan gurunya.

Sikap santun dan hormat yang dilakukan secara tulus seperti ini, semakin memudar dan nyaris hilang dalam hubungan guru dan murid di berbagai jenjang sekolah kita. Kini, murid merasa seseorang dipandang gurunya hanya ketika proses belajar-mengajar berlangsung, setelahnya tidak ada lagi hubungan anak dan orang tua antara guru dengan murid. Bahkan tidak jarang kita mendengar dan menyaksikan seorang murid memukul gurunya. Sebuah ironi yang memilukan sekaligus memalukan dan mencederai dunia pendidikan kita saat ini.

Ungkapan klasik tentang guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”, kini semakin samar dalam kehidupan. Padahal, setiap kali guru merasa bahagia ketika mendengar dan menyaksikan keberhasilan yang diraih anak didiknya menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan masyarakat. Bukan karena kehidupan guru semakin sejahtera dengan renumerasi dan tunjangan lainnya atau karena gedung-gedung sekolah yang indah dan megah.

Kemajuan dan perkembangan suatu bangsa senantiasa mengacu pada rumus sosial, kalau ingin memajukan satu bangsa maka yang harus diutamakan adalah pendidikan, dan muliakan guru. Kesalahan pendidikan hari ini, akan menyebabkan kehancuran murid dan generasi yang akan datang.

Karenanya guru masuk ke kelas tidak hanya membawa informasi keilmuan berdasarkan tuntutan kurikulum, tetapi harus masuk ke kelas dengan hati dan cinta kasih. Ketika guru mengajar dengan hati, maka murid akan menerima dengan hati. Guru yang mengajar dengan cinta, pasti akan dicintai murid. Guru yang pandai menghargai murid, pasti dihargai dan dihormati oleh muridnya.

Pemerintah telah mengucurkan sejumlah fasilitas dan kemudahan, seperti beasiswa pendidikan di dalam dan di luar negeri, tunjangan profesi dan lainnya. Berbagai fasilitas yang disediakan itu tentu akan melahirkan beragam tuntutan yang harus diwujudkan. Mampukah guru memacu kualitas diri untuk meningkatkan mutu pendidikan? Pengaruh yang menggerogoti anak didik datang dengan beragam bentuk, seberapa besar kemampuan dunia pendidikan kita dapat berfungsi sebagai penangkal terhadap pengaruh yang mendatangi mereka. Karena itu, guru dituntut untuk mampu mengasah wawasan dan pengalaman untuk mengayomi irama kehidupan.

Para guru hendaknya mampu memahami potensi yang dimiliki setiap anak didik dan cara belajarnya, lalu mengembangkan melalui fasilitas yang dimiliki berikut bimbingan sesuai bakat dan minat mereka. Sangat disayangkan banyak guru cenderung membuat ukuran kesuksesan anak didik dengan satu indikator, misalnya sebatas fisika atau matematika. Siapa di antara anak didik yang memiliki nilai fisika atau matematika yang paling tinggi dianggap paling hebat dan pintar.

Padahal fisika dan matematika hanya salah satu dari sekian kecerdasan yang dimiliki anak didik, dan dalam kehidupan sosial tiap-tiap kecerdasan sangat diperlukan. Misalnya kecerdasan bisnis, olahraga, seni dan lain sebagainya.

Tradisi membaca dan menulis di kalangan guru juga rendah, tidak banyak guru di sekolah yang tergolong elit sekalipun yang mampu menghasilkan karya tulis berupa artikel di media atau buku. Materi ilmu yang disampaikan masih stok lama, sehingga peran guru tak ubahnya seperti karyawan. Yang penting bekerja memenuhi tuntutan atasan sesudahnya menunggu gajian.

Komentar