oleh

Jamal Khashoggi

-Kolumnis

DEMOKRASI tidak pernah lahir di pinggir-pinggir jalan ataukah arus ramainya orang banyak. Ia tidak juga datang dari pena kita, dengan ujaran-ujaran kebebasan untuk bicara, memuntahkan semua perasaan kita untuk tidak mengatakan pada kekuasaan yang tak pernah mau mendengarkan rakyatnya. Tapi demokrasi barangkali adalah kesepahaman untuk menilai sebuah perbedaan cara pandang dalam membangun negara.

Tapi tidak untuk negeri nun jauh di sana. Arab Saudi. Kritikan yang keras dilontarkan oleh Jamal Khashoggi itu, seorang wartawan dan juga kolumnis Washington Post, telah memulai perang’ yang sesungguhnya dengan mengaduk-aduk perasaan para Pangeran, bahwa Arab Saudi memang harus berubah barangkali menurutnya, bahwa di sana mereka harus belajar untuk mendengar, tentang apa itu keluhan juga mungkin keterusterangan.

Khashoggi yang mati termutilasi di Keduataan Arab Saudi di Turki, lahir di Madinah 13 Oktober 1958, sebenarnya berasal dari keluarga terpandang dengan akar leluhur dari Turki. Bibinya Samira Khashoggi juga adalah seorang jurnalis. Sepupunya, Dodi al-Fayed adalah jutawan yang meninggal dalam sebuah kecelakaan bersama Diana Spencer Putri wales.

Dari keluarga yang cukup terpandang dan terpelajar inilah, Jamal Khashoggi mengasah dirinya sebagai orang kritis. Ide-ide liberal yang dipelajarinya itu, telah membentuk dirinya untuk melihat persoalan secara objektif, termasuk dipemerintahan yang pernah dekat dengannya, Arab Saudi.

Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa seseorang bisa berubah dengan cara pandang yang berbeda. Dengan pikiran-pikiran liberal itulah, Khashoggi banyak mengkritisi pemerintahan Arab Saudi, di bawah pengaruh Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman. Kritikan ini, bagi pemerintahan yang tak mengenal demokrasi hukum kadang tak perlu diberlakukan. Jika ia membahayakan, maka harus diselesaikan dengan cara lain.

Lalu adakah konsep tentang cara menguasai lawan, seperti yang dikatakan Karl von Clausewitz yang tersohor itu, kecuali dengan cara menekan. Entahlah.

Ketika sebuah pemerintahan mempersonifikasikan dirinya sebagai sebuah kekuasaan yang utuh, ia akan menjadi jengah dengan kritikan dan akal sehat seperti yang dikatakan Rocky Gerung akan hilang. Dan apakah kita bisa percaya dengan pemerintahan yang tak bisa dikritik bahwa dia jujur dengan diri dan rakyatnya.

Seperti berada dalam sebuah labirin. Kekuasaan yang begitu lama berkuasa mengalami kecenderungan untuk otoriter. Ia terdistorsi dengan ketakukan-ketakukan yang tak beralasan, tentang apa yang disebut kritik. Kekuatan yang membatu itu, akan menjadi pemukul yang maha hebat, termasuk mencabut nyawa seseorang.

Kita mungkin tak bisa mengiyakan seperti yang dikatakan, Ilya Ehrenburg, “seperti setangkai kembang yang tersembunyi” bahwa keterusterangan tidak lagi diperlukan dalam kondisi kekinian. Ketika kekuasaan sudah menjadi tirani. (**)

Komentar