oleh

NKRI Harga Mati yang Lain Mati Harga

Editor : Lukman Maddu-Kolumnis-

SELAMAT kepada Panglima Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, yang telah berkunjung di Kampus Pesantren Nahdatul Ulum Maros Sulsel. Nahdlatul Ulama Provinsi Sulawesi Sambut Kedatangan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahianto dan Kapolri Jenderal Prof. DR. Tito Karnavian, MA beserta rombongan di Pondok Pesantren Nahdatul Umum Maros Sulawesi Selatan (Selasa /12/02/2019).

Dalam acara tersebut, turut hadir Menteri Ketenagakerjaan RI Hanif Dakhiri, Gubernur Sulawesi Selatan Prof. DR. Nurdin Abdullah, Kapolda Suselbar, Pimpinan pondok Pesantren Nahdlatul Umum sekaligus Rais Syuriah PWNU Sulsel AGH. Sanusi Baco, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Sulsel KH. Hamzah Harun Al-Rasyid.

Selain pesantren NU yang dikungjungi Panglima dan Kapolri bersama rombongan, pesantren IMMIM Putra Tamalanrea Makassar sebagai kampus pengawal keragaman dalam bingkai ke-bhinneka-an, dengan motto “Bersatu dalam Akidah Toleransi dalam Masalah Furu’ dan Kilafiyah”.

Pondok pesantren dikenal juga Lembaga pendidikan keagamaan di bawah pengawasan dan pembinaan kementerian agama yang menyebar di seluruh pelosok tanah air Indonesia yang berjumlah 28.194 peaantren, menjadi lembaga pendidikan keagamaan khusus yang dimiliki bangsa Indonesia yang banyak negara tertarik dengan sistem dan metode pendidikan dan pengajarannya.

Siswa pesantren dikenal dengan santri/santriwati ‘mondok’ di dalam kampus, dengan jadwal kegiatan yang padat selama 24 jam sehari semalam, mengikuti tata tertib yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan setiap santri/santriwati selama 6 tahun masa pendidikan yang setara dengan Sekolah Pendidikan Pertama 3 tahun dan Sekolah Pendidikan Menengah Atas selama 3 tahun juga.

Pesantren IMMIM memiliki visi; Pertama, Menyelenggarakan pengelolaan pondok pesantren yang berbasis kepada manajemen kualitas yang Islami guna menjalin dan menciptakan rasa puas dan bahagia bagi segenap insan pondok dan umat; Kedua, Mengembangan sistem pendidikan Pondok Pesantren yang enyeimbangkan antara pendidikan umum yang berbasis pada pembinaan moral dengan pendidikan umum yang berbasis pada penguasaan IPTEK guna memperoleh keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat; Ketiga, Melaksanakan proses pendidikan yang berorientasi pada pengembangan kehandalan dan kecakapan hidup santri yang berdaya saing tinggi sebagai rahmatan lil alamin.

Pesantren Pendidikan al Qur’an IMMIM Putra Tamalanrea, yang didirian pada tahun 1975 oleh Bapak alm H. Fadli Luran seorang militer agamawan, telah menamatkan santri di Tamalanrea dan santriwati yang berlokasi di Minasa Te’ne Kabupaten Pangkep 50 km dari Kota Makassar. Selain kedua kampus tersebut, kampus ketiga yang berlokasi di Moncong Loe Kabupaten Maros. Bapak H. Fadli Luran bukanlah seorang alumnus pesantren pada zamannya, namun sebagai pejuang tertanam dalam dirinya militansi keberagamaan, beliau memiliki mimpi besar menyiapkan kader “ulama yang intelek dan intelek yang ulama”, sehingga semasa hidupnya setiap beliau memberikan nasehat kepada segenap santri pada tahun 70 an dan 80 an, beliau menanamkan pendidikan disiplin dalam segala aspek kehidupan dalam pesantren dan menanamkan semangat penuh militan dalam belajar, agar dapat meraih kesuksesan dalam segala bidang keilmuan.

Sejarah berlalu, masa berganti, pesantren IMMIM terus membenahi diri hingga kini telah melaksanakan penamatan wisuda santri swbanyak 38 kali dan menamatkan santri dan santriwati dalam jumlah ribuan orang yang berkiprah pada segenap lapangan pekerjaan, alumni pesantren IMMIM bahkan tidak sedikit yang lulus masuk pendidikan Akmil dan Akpol. Pendiri pesantren IMMIM sama halnya dengan pendiri pesantren lainnya, memiliki harapan besar agar segenap alumninya mengisi seluruh lini kehidupan yang maju mengisi pembangunan dan melanjutkan cita2 perjuangan bangsa serta menjaga keutuhan NKRI.

Di antara kiprah alumni pesantren IMMIM adalah Chaeruddin SB Alumni 1981 local staf Atase Pertahanan KBRI di Saudi Arabiah, Drs.H.Masrur Makmur La Tanro. Alumni 1983 Pengusaha dan MUI Poropinsi Bali, DR Taufan B,SH MA, Alumni 1983 Direktur Pesantren IMMIM dan Dosen IAIN Palu. Prof. DR. H. Irfan Idris MA. (Direktur Deradikalisasi BNPT RI). Alumni 1985. Syarifuddin Abdullah Alumni 1985 Alumnus al Azhar Kairo, bertugas di BIN. Kol. TNI DR Abd Rivai Ras. Alumni 1986, di Kemenhan RI. Mayor AD Iqbal Said Alumni 1986 di Bandung. Prof. DR. Ahmad Abubakar, MA. (Guru Besar UIN Makassar Alumni 1988. Letko. TNI AD.Abd. Malik. Alumni 1986. Kombes Pol. Drs. Imam Setiawan. Dirlantas Polda Sulteng Alumni 1986. Letkol TNI AL As’Ad Ismail. Di Lantamal Makassar Alumni 1986. Letkol AL Muh. Asri Arif SH. MH. Angkatan Laut Jakarta. Alumni 1987. Mayor Infanteri Asnoor Kodam Hanasuddin. Alumni 1993.

Pada era millenium, era kidz jaman now, generasi milenial sangat langkah bahkan lebih banyak di antara mereka yang tidak mengetahui sejarah perjuangan bangsa, rangkaian kehidupan para pejuang yang telah gugur di medan laga dalam mewujudkan dan mempertahankan kemerdekaan RI, empat konsensus berbangsa yang membentuk jati diri para penerus perjuangan bangsa, semakin tidak dikenal dan dipahami lagi oleh mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu berselancar di dunia maya dan menjauh dari dunia nyata.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang mendidik para kidz jaman now, menjadi tumpuan dan harapan Bapak2 bangsa agar segenap anak2 bangsa mempersiapkan diri baik fisik, mental dan spiritual dapat membentengi keutuhan NKRI secara geografis dan terus menjaga falsafah Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Hal tersebut menjadi atensi bagi segenap ustad, para guru dan semua orang tua agar anak2 kita yang mondok di pesantren memberi dukungan sepenuhnya serta memantau dan mengawasi dalam proses belajar dan menerima pelajaran dari para guru dan ustad yang mendampinginya siang dan malam.

Pesantren Bukan Pencetak Teroris

Lembaga pendidikan keagamaan atau pesantren bukan lembaga pendidikan yang menyemai faham radikal dan aksi anarkis, juga lebih tidak mungkin sebuah pesantren mempersiapkan pelaku teror dan aksi bom atau pelaku bom bunuh diri, sebab terorisme merupakan kejahatan serius yang luar biasa, kejahatan kemanusiaan dan kejahatan lintas negara, sangat bertentangan, jika sekelompok orang dan jaringan bersekutu membangun pesantren, namun di dalamnya tidak lagi diajarkan Pancasila dan UUD 1945 serta sang Merah Putih tidak lagi melambai.

Pihak2 itulah yang harus dipantau oleh masyarakat dan aparatur negara terutama Kemenag dan Kemendagri agar jangan ada pihak menyalahgunakan lembaga pendidikan keagamaan bertuliskan pesantren, namun yang terjadi adalah penanaman kebencian dan penyebaran permusuhan yang tak henti2 nya menuding pemerintah dan aparat keamanan sebagai ‘thogut’ dan Pancasila sebagai produk kemusyrikan serta mengharamkan demokrasi yang ujungnya memiliki tujuan mengganti negara bangsa menjadi negara agama dengan sistem khilafah.

Akhirnya, penulis sebagai alumnus pesantren IMMIM mengajak para ustad, guru dan pembina untuk tetap meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan bagi santri/santriwati agar menelorkan alumnus yang berkualitas, memiliki jati diri sebagai bangsa Indonesia dan juga kepada seluruh masyarakat agar tidak mudah menggunakan istilah “pesantren radikal” bagi sebuah pesantren karena jika di dalam sebuah lembaga pendidikan tidak menanamkan nilai2 kebangsaan bahkan sebaliknya menganggap Indonesia sebagai negara kafir, sesungguhnya lembaga tersebut bukanlah pesantren. Pesantren yang menjadi harapan melahirkan generasi pelanjut perjuangan bangsa menjadikan NKRI sebagai Harga Mati dan ideologi lainnya Mati Harga. (**)

Komentar