oleh

Meriah, Pawai Budaya HUT Parepare ke-59 Dilengkapi Atraksi Tradisional

Editor : Rahmaniar, Penulis : Ashar Abdullah-Daerah, Headline, Parepare-
PAREPARE, BP – Ada yang berbeda dalam pelaksanaan Pawai Budaya sebagai rangkaian kemeriahan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Parepare ke-59 kali ini.
Sejumlah pertunjukan budaya melalui kostum, tarian, dan permainan tradisional dipentaskan dalam Pawai Budaya yang dimotori Pemerintah Kota melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Parepare, Kamis, (14/2/2019).
Tak hanya memperkenalkan sejumlah pakaian adat seperti Pawai Budaya pada umumnya, namun Pawai Budaya kali ini, sejumlah permainan dan tarian tradisional dipentaskan, baik lokal, maupun budaya nusantara yang ada di Parepare, salah satunya Kesenian Campur Sari yang dibawakan Kerukunan Keluarga Jawa (KKJ).
Uniknya, di Pawai Budaya kali ini, juga menampilkan permainan tradisional Mallongga’ sebagai salah satu permainan trasidional masyarakat Bugis Parepare dengan menggunakan pelepah bambu sebagai alat yang digunakan untuk berjalan. Siswa yang membawakan permainan ini rela berjalan menggunakan bantuan pelepah bambu, mulai di garis star depan SMPN 9 (Jalan Bau Massepe), hingga di Lapangan Andi Makkasau.
Mallongga’ sendiri, berasal dari bahasa Bugis ‘Longga’ yaitu makhluk sejenis jin dengan postur tubuh yang sangat tinggi. Kata longga’ juga dapat diartikan tinggi atau jangkung.
Permainan Mallongga’ merupakan permainan tradisional yang sangat digemari anak-anak maupun orangtua. Jenis permainan ini merupakan olahraga yang memerlukan ketangkasan dan keterampilan menggunakan pelepah bambu atau kayu yang terdiri dari dua batang yang kuat dengan panjangnya dua kali lebih tinggi badan atau sesuai dengan kemampuan dan keberanian pemainnya. Sebagai tempat berpijak, terdapat sebuah kayu yang panjangnnya kira-kira setengah panjang telapak kaki pemain.
Selain Mallongga’, ada pula pertunjukan tarian Sayyang Pattuddu yang dipentaskan Kerukunan Keluarga Mandar, Kostum Karnaval, Tarian Gendrang Bulo,  Kostum Suku Toraja, Kostum mamasa dari Gereja Toraja Mamasa, Badut-badut Kota dan Komunitas GB Photography, Seni Tari Barongsai dari Paguyuban Etnis Tionghoa, drumband SD, SMP dan SMA, dan budaya Angngaru’ versi Bugis.
“Kegiatan pawai budaya tahun ini kami buat berbeda, dengan berbagai keanegaragaman etnis yang ada di Parepare. Ini menggambarkan bahwa Parepare multi kultural dan multi etnis,” ujar Mustadirham, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Parepare.
Mustadirham berharap, Pawai Budaya ini bisa menjadi kalender provinsi sebagai Pesona Wisata.
Sementara, Walikota Parepare HM Taufan Pawe, Pawai Budaya tersebut   merupakan salah satu perwujudan dalam menjadikan Parepare sebagai Kota Industri Tanpa Cerobong Asap, khususnya pada pilar kepariwisataan.
“Hari ini jawaban awal untuk melahirkan komitmen kuat bahwa Parepare sebagai Kota Indsutri Tanpa Cerobong Asap, yang salah satu penyangganya di bidang kepariwisataan,” papar Taufan Pawe didampingi Wakilnya, Pangerang Rahim saat melepas 100 kontingen dari jenjang pendidikan TK, SD, SMP, SMA baik negeri maupun swasta. (*)

Komentar