oleh

Ketua Forum DAS Jeneberang Minta Bupati Gowa Normalisasi Bendung Kampili

Editor : Ashar Abdullah-Daerah, Gowa-

MAKASSAR, BP – Ketua Forum DAS Jeneberang, Rahmansyah meminta, Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ) dan pemerintah Kabupaten Gowa, agar segera melakukan normalisasi aliran sungai Jeneberang serta membenahi kondisi Bendung Kampili.

Hal tersebut disampaikannya pasca meninjau langsung kondisi aliran sungai Jeneberang dan Bendung Kampili, pasca banjir beberapa waktu lalu.

Menurut mantan legislator di DPRD Provinsi Sulsel ini, jika itu tak segera dilakukan, maka akan berimbas terhadap hasil panen petani yang sepenuhnya bergantung dari Bendung Kampili untuk mengairi sawahnya.

Sehingga Rahmansyah khawatir akan berdampak terhadap stabilitas dan stok pangan, dalam hal ini produksi gabah.

“Setelah melihat langsung kondisi Bendung Kampili pasca banjir dan longsor yg terjadi sekitar 1 bulan yang lalu, mengakibatkan bendung ini tidak bisa berfungsi, akibat adanya material lonsoran tanah dan pasir bercampur batu yang menutup aliran air yang menuju pintu air bendung tersebut sepanjang sekitar 100 meter. Selain itu, ada bagian depan pintu bendung dipenuhi batang kayu yang terbawa arus air,” beber Rahmansyah

Sewaktu terjadi banjir dengan volume air yang sangat tinggi, lanjutnya, juga mengakibatkan tanggul dan bronjong disebelah Bendung roboh, sehingga terbentuk sungai atau aliran air baru dengan lebar aliran sekitar 150 meter.

“Posisi baru aliran air itu berbelok sekitar 300 meter di depan Bendung, karena yang menuju ke bendung tertutup material tanah dan pasir bercampur batu,” jelas Rahmansyah.

Olehnya itu, Rahmansyah yang juga pernah menjabat sebagai wakil ketua DPRD Gowa ini, berharap BBWSPJ bersama Pemerintah Gowa segera melakukan normalisasi aliran sungai yang akan mengarah ke mulut bendungan dan membenahi kembali tanggul yang jebol sebelum bendungan.

“Kami harap pihak BBWSPJ, PSDA Sulsel dan Bupati Gowa harus sesegera mungkin membersihkan material yang menutupi jalur sungai ke arah bendungan. Sebab, yang merasakan dampaknya petani kita dan yang lebih mendesak stok pangan akan terganggu,” tandasnya.

Sementara, Ketua KTNA Gowa, Kusnadi Efendi Dg Lewa menjelaskan, Bendung Kampili mengairi persawahan sekitar 10.545 Ha. Dana dalam satu musim tanam menghasilkan rata rata 6,5 ton/Ha Gabah Kering Panen (GKP), maka produksi satu musim tanam adalah 68.542 ton GKP, yang jika dikonversi ke beras sebanyak 37.698 ton.

“Ini bisa mencukupi kebutuhan beras selama setahun, sebanyak 314.150 jiwa, dengan tingkat konsumsi 120 kg/kapita/tahun,” jelas Kusnadi.

Namun, jika kondisi Bendung Kampili tak dibenahi, maka setiap musim Tanam Gadu yang dilakukan pada awal bulan April 2019, dipastikan akan terkendala.

“Musim Tanam Gadu itu awal April, jadi petani sudah mulai lagi menyemai benih padi. Jadi solusi yang kami tawarkan dari KTNA Gowa, kepada Bapak Bupati Gowa dan Kepala BBWSPJ, serta semua pihak yang terkait, adalah mengeruk sedimen yang ada di depan bendung, sehingga air bisa mengalir menuju pintu air bendung, sehingga petani di daerah irigasi Kampili bisa mendapatkan lagi air irigasi,” pungkasnya. (*)

Komentar