oleh

Mahasiswi PPs UNM Luncurkan Novel Pendakian Dibalut Kisah Cinta Islami

Editor : Ashar Abdullah-Edukasi, Kampus-

MAKASSAR, BP – Mahasiswi Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM) An. Fauziah meluncurkan bukunya yang berjudul “Napak Tilas Merah Jambu (NTMJ) – Sebuah kisah cinta yang hilang di Gunung Tambora”.

Acara peluncuran dihelat di gedung AD Pascasarjana UNM lantai 4, ruangan 403, Rabu (20/3/2019).

Launching ini juga dibuka secara resmi oleh Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia PPs UNM. Prof. Dr. Johar Amir. M.Hum dan dihadiri oleh pakar sastra sekaligus dosen PPs UNM. Prof. Dr. Muh. Rapi Tang, M.S, juga Dekan FKIP Universitas Bosowa (Unibos) Dr. Asdar S.Pd. M.Pd. dan sejumlah undangan dan mahasiswa PPs UNM.

Dalam sambutannya, Prof. Johar memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada penulis novel “Napak Tilas Merah Jambu” karena, berhasil menulis sebuah karya sastra di tengah kesibukannya mengikuti perkuliahan.

Menurutnya pencapaian tersebut merupakan kebanggaan untuk almamater UNM.

“Besar harapan saya selanjutnya akan ada lagi novel-novel berikutnya yang lahir, dipersembahkan kepada masyarakat Sulawesi Selatan secara khusus dan masyarakat Indonesia secara umum. Semoga Andi Neneng Nur Fauziah mahasiswi Pascasarjana UNM Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dapat membimbing teman-teman yang lain dalam menciptakan suatu karya, ” ujarnya.

Sementara Prof. Rapi mengatakan novel ini memiliki kualitas, bernuansa islami, tema cinta yang diangkat bukan kisah cinta masa kini melainkan kisah cinta yang masih pada koridor agama, cinta dalam diam.

“Penulis, pertahankan karakteristik penulisannya dengan apa yang sudah diangkat dalam novel ini yaitu, adat dan agama. Meski pun kebanyakan penulis sekarang berada pada genre modern,” tuturnya.

Dia mengatakan, novel tersebut dalam ciri-ciri karya sastra sudah memenuhi syarat, ciri-ciri yang di maksud yaitu, umumnya diawali perseorangan pribadi dua anak manusia, memiliki tema cinta, pesan moral, kisah cinta islami, kepatuhan anak ke orang tua terhadap pentingnya sebuah restu.

Sedangkan, Dr. Asdar mengatakan karya sastra harus mempunyai diksi dan intuisi yang mendalam, selain imajinasi yang sifatnya di luar.

“Tulisan karya sastra atau semua tulisan tidak ada yang salah, semua benar.” Paparnya.

Sang penulis An. Fauziah menjelaskan tulisan ini terinspirasi dari salah satu kisah kerabat dekat yang telah menceritakan perjalanan hidup kisah lalunya, mengenai betapa sulitnya tradisi meminang seorang perempuan di tanah Makasaar.

Diceritakan perjalanan pendakian gunung Bawakaraeng, Gunung Tambora, Gunung Latimojong, Gunung Sesean dengan balutan kisah cinta yang ditorehkan dalam novel NTMJ.

Singkatnya, novel ini bercerita tentang dua anak manusia yang sama-sama pernah terkhianati oleh pasangan masing-masing. Lalu, waktu dan takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kegiatan kepecintaalaman. Kemudian, terpisah dalam waktu 5 tahun, tanpa adanya pengungkapan rasa. Akankah cinta dalam diam diam tersebut menyatu atau tidak, silahkan baca Novel NTMJ. (rls)

Komentar