oleh

JK VERSUS ERWIN AKSA

Editor : Lukman Maddu-Kolumnis-

BAPAK M. Jusuf Kalla, kelahiran 15 Mei 1942, lebih akrab disapa JK adalah paman Erwin Aksa. JK, Wakil Presiden Dua Zaman berbeda adalah putra pertama dari 10 bersaudara, pasangan H. Kalla dan Hj. Atirah. JK adalah saudagar juru damai bangsanya yang diakui oleh dunia internasional. Hari ini, JK masih dipercaya sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI), periode keduanya. Sejak awal musim pemilihan presiden (pilpres) nama JK sudah tercetak di susunan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf.

Erwin Aksa, kelahiran 17 Desember 1975, putra pertama Aksa Mahmud, entrepreneur muda yang terbilang sukses lewat branding Bosowa Group dan kader potensial Partai Golkar.

Memasuki musim kampanye pilpres, terjadi polemik dan saling kalim di media nasional dan media sosial, JK dicap abu-abu, main dua kaki, dukung Jokowi dan Prabowo. Semua mantan anggota dan mesin tim sukses JK pada pilpres 2014 stand by. Mulai Pengurus Jenggala Center (JC), pimpinan Iskandar Manji dkk; Pasukan Relawan Nusantara dari pengurus dan anggota Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) dari Sabang sampai Merauke; hingga Pengurus dan Anggota Institut Lembang Sembilan, pimpinan M. Alwi Hamu. Mereka semuanya, menunggu perintah dan petunjuk JK, dukung Jokowi atau Prabowo.

Pada kondisi yang sama, Erwin juga masih malu-malu kucing, kendati sudah mulai cenderung dukung sahabat mudanya, Sandiaga Uno.

Awal Februari 2019, JK mengambil keputusan besar dan turun gunung, mengumpulkan pengurus, relawan, dan mesin politiknya dari Jenggala Center, Relawan Nusantara, dan Institut Lembang Sembilan. Mereka dikumpulkan dan diberi pengarahan olehJK dan dihadiri oleh Joko Widodo (Jokowi) di Ballroom Hotel Luwansa, Kawasan Rasuna Said dan sekali di rumah dinasnya, Jl. Diponegoro. JK berujar, “saya kenal baik kedua calon presiden, orang pertama yang saya kasih proyek besar adalah Prabowo, 2014. Saya mengenal Jokowi itu orangnya sederhana, mau belajar, tidak korupsi, dan tidak otoriter.”

Atas pernyataan tersebut, ces plong bin klir. JK deklarasi dirinya sebagai lokomotif gerbong pendukung Jokowi-Ma’ruf.

Tanggal 19 Maret, dua hari setelah Debat Calon Wakil Presiden, Sandiaga vs KH. Ma’ruf Amin, 17 Maret. Erwin kumpulkan awak media, deklarasi dukung sahabatnya, Sandi. Klir juga. Erwin menyatakan diri mundur sementara dari partainya, Golkar, ingin bantu Sandi, yang kelihatan dapat diimbangi bahkan kalah banyak pujian oleh beberapa pengamat akan kemampuan jawaban taktis KH. Ma’ruf Amin. Erwin hadir pada momentum yang tepat, bantu sohibnya, Sandi.

Adalah menarik mengamati dua kejadian gerakan politik, “paman JK turun gunung bantu Jokowi dan sang junior, Erwin Aksa deklarasi, dukung Sandiaga.

JK adalah suhu para saudagar dan politisi senior yang teruji dan punya mesin politik, pengaruh, dan pengikut banyak. Erwin adalah junior dan murid brilian sang paman JK di jagat bisnis dan politik.

Jika Jokowi dapat memenangkan pilpres, 17 April 2019, JK mungkin akan membisik ponakannya, “masih perlu ko belajar ama Om.” Tapi jika Prabowo menang, Erwin akan peluk dan meledek Om Ucu, “menang ka Bos.” (**)

Komentar