oleh

Kasus Penggelembungan Suara Partai Golkar, Bawaslu Sulsel Perintahkan Buka Kotak Suara

Editor : Ashar Abdullah-Headline, Pemilu, Pileg 2019, Politik-

MAKASSAR, BP – Komisoner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulsel, Saiful Jihad, membeberkan adanya kasus laporan dugaan pelanggaran administrasi terhadap penggelembungan perolehan hasil pemungutan suara pada salah satu Calon Anggota Legislatif (Caleg) dan pengurangan pada caleg lain untuk Partai Golkar di Daerah Pemilihan (Dapil) Sulsel 2 (Makassar B) DPRD Provinsi Sulsel yang meliputi 4 kecamatan di Kota Makassar.

Adapun pelapor dari tim caleg petahan Imran Tenri Tata Amin. Mereka menduga persaingan di internal partai Golkar dengan mengubah angka yang diduga dilakukan caleg Golkar lainnya, Rahman Pina.

“Setelah mendengarkan keterangan pelapor, terlapor, saksi, dan memeriksa serta membandingkan data dan bukti-bukti yang ada pada pelapor, KPU, dan Bawaslu Makassar, maka Bawaslu Sulsel memerintahkan kepada KPU Makassar (terlapor) untuk melakukan penelusuran,” terangnya.

Penelusuruan ini membuat Bawalsu Sulsel meminerintahkan kepada KPU Kota Makassar untuk membuka kotak suara khususnya yang ada di dapil Sulsel 2 tersebut saat melakukan rekapitulasi tingkat provinsi di Hotel Harper Perintis Makassar, Jumat (17/5).

“Penelusuran kita membuka kotak dan memeriksa DAA-1 plano, sebagai dasar untuk menilai dan mengoreksi salinan DAA-1 dan DA-1 yang dipegang para pihak,” ucapnya.

Hal ini dilakukan dengan semangat menjaga suara pemilih dan akuntabilitas perolehan suara para caleg.

“Meski ini akan banyak menyita waktu dan tenaga dan pikiran, tetapi mesti dilakukan,” lanjutnya.

Putusan Bawaslu ini, menurut Saiful, sekaligus memberi jaminan, jika ada indikasi yang bisa dipertanggungjawabkan terjadinya pergeseran suara, apakah antar partai atau internal partai.

“Bawaslu akan memberikan putusan yang diharapkan menjadi patokan dalam menegakan keadilan Pemilu. Tentu, proses perbaikan (koreksi) administrasi ini, tidak boleh sampai di sini,” ujarnya.

Sementara, Ketua Tim Imran Tenri Tata Amin, Rahmat Ansari, memberikan apresiasi khusus kepada Bawaslu Sulsel atas respon terhadap laporan yang telah dimasukkan, beberapa hari lalu itu.

“Kita bersyukur dan memberikan apresiasi tinggi kepada Bawaslu atas respon yang segera memproses laporan yang kami masukkan,” ujarnya.

Tim Imranberharap Bawaslu bersikap netral dan tegas dalam memproses masalah ini, agar tidak ada yang dirugikan. “Utamanya kami yang menemukan adanya pergeseran suara kami ke caleg lainnya,” terang Rahmat mewakili Imran yang merupakan caleg Partai Golkar dapil Makassar B, meliputi Kecamatan Manggala, Panakkukang, Biringkanaya, dan Kecamatan Tamalanrea ini.

Sementara, dalam laporannya ke Bawaslu Kota Makassar, tim Imran melaporan adanya dugaan pergeseran suara Imran ke caleg lain di internal partai. Dari data yang dimasukkan ke Bawaslu dicontohkan pergeseran suara itu terjadi di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 16 Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya. Dimana suara Imran pada data C1 plano hologram itu tertulis 56 suara begitupun salinan C1, termasuk pada rekap tingkat kecamatan plano DA1 kelurahan masih tertulis 56 suara, tetapi setelah masuk DA1 IT kelurahan suara Imran sisa 5.

“Bahwa yang kita laporkan memang telah terjadi perbedaan data di DAA plano dengan DAA1. Itu fakta. Ini salah satu bukti dari banyak data yang kita masukkan sebagai laporan di Bawaslu. Ini jelas pelanggaran pidana pemilu yang dilakukan oknum penyelenggara pemilu, khususnya di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS). Pelanggaan ini sangat berat dan harus diproses sesuai hukum perundang-undangan yang berlaku,” bebernya.

Tim Imran bahkan menduga pergeseran suara ini tidak hanya terjadi TPS 16 Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya, tetapi di sejumlah TPS di beberapa kecamatan lainnya di dapil Makassar B.

“Ditakutkan hal ini terjadi di sejumlah TPS di kecamatan lainnya. Ini jelas sangat merugikan kami, sebab suara kami jauh berkurang, sementara caleg lainnya justru melambung tinggi,” terangnya. (Fahrullah)

Komentar