oleh

Budi Harta Winata Bakal Paparkan Succes Story di PSBM

Editor : Lukman Maddu-Metro, Wawancara-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Kerja keras, tekad kuat dan doa adalah tiga jurus ampuh untuk mencapai kesuksesan. Tak ada istilah jalan pintas bagi mereka para pejuang kehidupan. Salah satu contoh nyata adalah Budi Harta Winata.

Budi dijadwalkan akan hadir menceritakan succes storynya di acara Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) yang akan digelar di Wisma Negara Kawasan, Centre Point Of Indonesia (COI) Makassar.

Budi mengawali kisah hidupnya dengan berat di Jakarta. Namun dia terus berjuang, pantang menyerah dan dibarengi dengan doa, hingga akhirnya sukses di usia muda. Kisah Budi pun menyebar luas di media sosial. Dia dikenal sebagai tukang las yang berhasil mengubah nasib menjadi seorang pengusaha.

Kisah Budi berawal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Dia lahir di kota durian merah tersebut. Saat kelas V SD, Budi pindah ke Palopo, Sulawesi Selatan, tinggal di kampung halaman bapaknya. Di Palopo, sebagian besar pemuda bercita-cita ingin jadi pelaut, tak terkecuali Budi.

“Pelautnya yang ikut kapal pesiar. Kan duitnya banyak,” ucap Budi.

Budi adalah lulusan STM jurusan mesin. Dia ingin jadi pelaut, namun belum tahu jalannya. Akhirnya dia ikut sang kakak ke Jakarta dan tinggal di rumah kos di Cilincing, Jakut. Saat sang kakak bekerja ke Singapura, Budi sendirian di Jakarta.

“Akhirnya saya melamar kerja. Tapi bedanya, kalau saya sebelum melamar, malamnya saya tahajud. Ya Allah, saya mau melamar kerja,” ceritanya.

Singkat cerita, Budi diterima di sebuah perusahaan otomotif. Dia ditempatkan di tempat pembuatan velg truk. Namun sayangnya, Budi merasa tidak ‘tertantang’ di bagian tersebut.

“Terus sampai sekitar tahun ’95 saya mikir, kalau kerja kaya gini ilmunya di mana?” ceritanya.

Suatu hari, Budi melihat proses renovasi pabrik. Dia bertemu dengan kontraktor yang mengerjakan renovasi tersebut. Saat menanyakan syarat jadi kontraktor, Budi diminta belajar menggambar/drafting. “Malamnya saya berdoa sama Allah, Ya Allah, saya mau kerja seperti itu. Saya mau jadi kontraktor,” ungkapnya.

Akhirnya, setelah 3 bulan sejak peristiwa tersebut, Budi melihat ada sekolah untuk gambar jurusan arsitek, listrik dan packing mechanical. Akhirnya, Budi mendaftar. Namun karena biayanya cukup mahal, niat itu tertunda. Duit untuk bayar sekolah baru didapat setelah Budi di-PHK karena diajak ikut demo buruh.

Saat sekolah gambar/drafting, hanya butuh waktu 4 bulan bagi Budi untuk menguasainya. Dia pun mendapat tawaran kerja. “Saya akhirnya kerja di kantor. Saya berdoa terus biar bisa kerja di proyek,” imbuhnya.

Komentar