oleh

Pamungkas Ala JK

Editor : Ashar Abdullah-Kolumnis-

Jusuf Kalla (JK) adalah Wakil Presiden RI dua periode di dua zaman presiden yang berbeda, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), 2004-2029 dan Joko Widodo (Jokowi), 2014-2019.

JK adalah putra Bugis kelahiran 15 Mei 1942, 77 tahun lampau, di Bone, Sulawesi Selatan dari pasangan H. Kalla dan Hj. Atirah. Dia adalah anak pertama dari 10 bersaudara.

Ketika JK sebagai menjadi Wakil Presiden era SBY, peran dan fungsinya kelihatan, bukan sekadar sebagai pendamping (ban serep) presiden.

Perannya kelihatan sangat siginifikan, membantu SBY. Di ujung periode ini, JK bahkan digelari sebagai “The Real President.”

Tahun 2009-2014, JK tidak ada di dalam orbit pemerintahan, SBY memilih menggandeng Boediono di periode keduanya. Sangat terasa kerinduan banyak orang, ketika JK tidak ada di dalam pemerintahan SBY.

JK memilih mengabdi di lembaga sosial dan keagamaan: terdaulat sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI).

Takdir baik kembali menghampiri JK, setelah lima tahun mengabdi di PMI dan DMI, Jokowi justru datang meminangnya sebagai calon wakil presiden, 2014-2019, dan menang.

JK pun kembali ke orbit pemerintahan sebagai Wakil Presiden untuk menuntaskan perubahannya.

Karena faktor Undang-Undang yang tidak membolehkan lagi pada diri JK, Jokowi yang kembali mencalonkan diri sebagai calon presiden, 2019-2019, menggandeng KH. Ma’ruf Amin, dan JK didaulat sebagai Ketua Dewan Penasehat Tim Kampanye Nasionalnya pasangan 01 ini.

Hasil tabulasi riil Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang sudah 100% menunjukkan pasangan Jokowi-Amin sebagai calon kuat pemenang, mengalahkan rival lamanya, Prabowo yang berpasangan Sandiaga Uno pada pemilu terakbar, 17 April 2019 lalu.

Masa lima tahun mendampingi Presiden Jokowi, sudah mendekati akhir masa tugas JK.

Kelihatan hasil karya dan presiden Jokowi-JK, pembangunan infrastruktur dimana-mana, dari Sabang hingga Merauke, termasuk pembangunan di kampung JK, Sulawesi Selatan, ada kereta api, pelabuhan Soekarno Hatta diperlebar menjadi pelabuhan terbesar di Indonesia, bandara di perlebar, pembangunan dan perbaikan irigasi pengairan pertanian, hingga pembangunan jalan melingkar jurusan Bone lewat Camba, Maros.

Jejak JK sebagai Wakil Presiden 10 tahun tentu melahirkan banyak kesan dan definisi dari berbagai kalanga. Salah satunya Bapak Prof. Dr. Hafid Abbas, pakar pendidikan dan mantan Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menilai sosok JK sebagai, “tokoh negarawan yang tidak memiliki kesulitan mewujudkan perdamaian serumit apa pun karena pada dirinya terpelihara harmoni antara apa yang dituturkan, dilakukan, dan dipikirkan.

”Sementara dari kalangan milenial, drg. M. Arief Rosyid Hasan, mantan Ketua Umum PB HMI dan aktivis Dewan Masjid Indonesia (DMI) menilai figur JK sebagai, “man of idea and action.

Kepeduliannya terhadap anak muda di dua zaman berbeda sebagai Wapres tidak diragukan. Pikiran dan sikap teladannya abadi.”

Di ujung pemerintahan Jokowi-JK, tentu orang KKSS khususnya dan Indonesia Timur boleh bertanya, siapa penerus atau the next JK? Seperti terbaca di website KPU, jadwal pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih, 20 Oktober 2019 di Gedung MPR RI.

Kemana JK setelah 20 Mei 2019? JK pun sudah menyatakan akan kembali ke dunia pengabdian sosial, PMI dan DMI. JK adalah sosok pemersatu dan juru damai anak bangsanya.

JK ditunggu tugas berat, merekatkan kembali hubungan sosial antar-pendukung calon presiden, kubu pasangan Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi, setelah terjadi rivalitas dan perang di media sosial. JK adalah saudagar juru damai yang telah teruji.

Pak JK, selamat kembali ke dunia sosial dan keagamaan. Kami rindu gaya sigap dan kecepatan aksimu setiap ada bencana alam atau musibah yang menimpah anak bangsamu, termasuk gaya bahasa agama dan mazhab pemahaman agamamu yang toleran, inklusif, dan moderat agar Indonesia terjauh dari pengaruh aliran keagamaan yang radikal dan eksklusif. (*)

Komentar