oleh

Kemenag RI Gelar Tes Seleksi Studi Timur Tengah untuk Camaba Indonesia

Editor : Lukman Maddu, Penulis : Rusli-Edukasi-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) telah melaksanakan tes seleksi studi Timur-Tengah untuk calon mahasiswa baru Indonesia ke Mesir, Sudan dan Maroko pada Sabtu-Minggu (15-16 Juni 2019) di beberapa Universitas Islam Negeri di Indonesia.

Tes ini diikuti oleh ribuan putra-putri bangsa dari Sabang sampai Merauke, berjuang untuk bisa meraih cita-cita sebagai anak bangsa yang punya tanggung jawab masa depan bangsa.

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Alumni Timur-Tengah Indonesia, Dr. H. Andi Aderus MA mengatakan, setelah mengikuti tes, ada dua kenyataan yang harus dihadapi oleh camaba yaitu gagal karena terlalu sedikit kuota belajar ke Timur Tengah dan yang kedua kalaupun lulus maka para calon mahasiswa akan memempuh tahapan tes berikutnya yang mengharuskan mereka untuk ke Jakarta.

“Melihat beberapa kebijakan baru yang ditetapkan oleh Kementerian Agama RI terkait pelaksanaan ujian seleksi Calon Mahasiswa ke Timur-tengah tahun 2019, dengan ini Ikatan Cendekiawan Alumni Timur-Tengah (ICATT) Indonesia-Sulawesi menyatakan beberapa sikap,” kata Aderus.

“Pernyataan sikap ini dibuat sebagai wujud keberatan terhadap kebijakan Kemenag RI dalam pelaksanaan ujian seleksi Calon Mahasiswa ke Timur-tengah tahun 2019 sekaligus untuk kemaslahatan umat, bangsa dan negara,” tutup Aderus. (*)

Berikut Pernyataan sikap tersebut:

1. Kebijakan Kemenag RI dalam membatasi jumlah mahasiswa yang lulus ke Mesir hanya 750 orang saja pada tahun ini (2019). Dari 750 tersebut, yang beasiswa 150 dan nonbeasiswa 600 orang. Sementara Universitas Al-Azhar, Mesir, tidak pernah membatasi jumlah mahasiswa pada setiap tahunnya. Merupakan kebijakan yang sangat merugikan anak bangsa terutama mereka yang berlatar belakang anak santri sementara ke beberapa negara lain tidak ada pembatasan seperti Iran dan Arab Saudi

2. Sungguh tidak beralasan, jika jumlah mahasiswa yang ingin berangkat dengan biaya sendiri (non-beasiswa) dibatasi hanya sampai 600 orang. Mengingat mereka berangkat serta studi di Mesir dengan biaya sendiri dan tidak menggunakan uang dari Kemenag RI. Di samping itu, dengan adanya pembatasan jumlah Camaba ini akan semakin mengurangi dan menutup ruang dalam menyebarkan Islam Moderat (Wasathiyah) di tanah air yang sejalan dengan visi-misi yang dinginkan kementrian Agama RI

3. Mengharuskan Ujian tes wawancara tatap muka dilaksanakan di Jakarta. Ini merupakan kebijakan yang tidak logis dengan memperhatikan kondisi geografis dan luas wilayah Negara Republik Indonesia. Akan sangat mahal dan berat biayanya bagi Camaba khususnya yang berada di wilayah Timur Indonesia untuk datang ke Jakarta. Sementara mereka belum dipastikan akan lulus, dan bisa kuliah di Universitas Al-Azhar. Padahal jika tes wawancara dilakukan di wilayah masing-masing akan jauh lebih efektif dan efisien.

4. Banyak kebijakan Kemenag RI dalam hal seleksi calon mahasiswa ke Timur Tengah sepertinya tanpa ada koordinasi dengan Organisasi Internsional Alumni Al-Azhar (OIAA) kantor Indonesia. Di mana seharusnya OIAA menjadi fasilitaor utama, sekaligus menjadi mitra Kemenag RI dalam dalam pengiriman putra putri Indonesia untuk belajar di Al-Azhar.

5. Meminta kepada Kementerian Agama RI untuk membagi jatah perwilayah bagi Camaba yang ingin melanjutkan Studi ke Timur-Tengah khususnya untuk wilayah timur Indonesia agar kader-kader wasathiyyah Islam tersebar diseluruh pelosok Nusantara.

Komentar