oleh

Peluru Yang Tembus Korban Tewas Kerusuhan 21-22 Mei Kaliber 5,56 Dan 9 mm

Editor : Ashar Abdullah-Hukum, Kriminal-

BP – Tim investigasi internal Polri telah melakukan uji balistik terhadap proyektil peluru yang bersarang di tubuh korban tewas kerusuhan 21 dan 22 Mei lalu di Jakarta.

Dari hasil Laboratorium Forensik (Labfor), tiga proyektil yang berhasil diangkat berkaliber 5,56 dan 9 Milimeter (mm).

“Dari hasil uji labfor menyebutkan dari tiga proyektil yang didapat dari tubuh korban yang diduga pelaku perusuh kaliber 5,56 dan kaliber 9 mm,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (18/6).

Tingkat kerusakan proyektil cukup parah, terutama pada kaliber 9 mm sehingga mempersulit uji balistik jenis senjatanya.

Dedi menjelaskan, kaliber 5,56 mm dan 9 mm biasanya digunakan untuk senjata standar Polri-TNI, termasuk jenis rakitan.

“Sebagai contoh kejadian konflik yang ada di Papua, kemudian di Maluku termasuk tersangka terorisme MIT (Mujahidin Indonesua Timur) Itu kan mereka mendapat peluru organik. Cuman senjata yang digunakansebagai besar rakitan,” jelas Dedi.

Namun lanjut Dedi, akan sulit ditelusuri alurnya jika peluru itu berasal dari senjata rakitan.

“Ciri khasnya senjata rakitan lebih sulit. Untuk mengidentifikasi alur senjatanya, dari uji balistik itu akan kesulitan. Makanya senjata rakitan itu ada yang memiliki alur ada yang tidak memiliki alur. Kalau senjata standar jelas alurnya ke kanan atau ke kiri,” papar mantan Wakapolda Kalimantan Tengah ini.

Dedi kembali menegaskan bahwa seluruh personel Polri dan TNI pada saat melakukan pengamanan aksi 21 dan 22 Mei tidak dibekali senjata api maupun peluru tajam. Mereka hanya dilengkapi tameng dan gas air mata.

“Dan sebagian besar sembilan korban yang diduga perusuh tidak ada di depan Bawaslu. Semua TKP di luar lokasi Bawaslu,” pungkas Dedi. (rmol)

Komentar