oleh

Walau Meletus, Tangkuban Parahu Tetap Dibuka untuk Pengunjung

Editor : Ashar Abdullah-Gaya Hidup, Wisata-

BACAPESAN.COM – Erupsi. Belasan wisatawan harus dilarikan ke klinik karena sesak napas akibat abu letusan. Tapi, pengelola Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Parahu tetap berencana membuka kunjungan umum hari ini.

“Besok (hari ini, Red) dilihat, kalau situasi normal, kami akan tetap buka,” kata Putra Kaban, direktur utama PT GRPP (Graha Rani Putra Persada), pengelola TWA Gunung Tangkuban Parahu, saat dihubungi Radar Bandung kemarin (26/7).

Menurut Putra, tidak ada satu pun instansi yang bisa melarang pihaknya membuka loket kunjungan untuk wisatawan. “Yang menentukan saya buka atau enggaknya. Kalau normal ya kami tetap buka,” ucapnya.

Gunung dengan titik tertinggi 2.084 meter di atas permukaan laut itu meletus pada pukul 15.48 WIB kemarin. Pengunjung pun dievakuasi. Tak ada korban jiwa.

Namun, 15 wisatawan harus dilarikan ke Klinik Sespim Lembang, Kabupaten Bandung Barat, karena terpapar abu vulkanis. Kebanyakan menderita sesak napas karena menghirup abu erupsi yang ada. “Sebagian sudah pada pulang,” ujar Kapolsek Lembang Kompol Sutarman kepada wartawan saat ditemui di Pos Pemantauan Gunung Tangkuban Parahu.

Sebelumnya, berdasar hasil rekaman seismograf, pada 21 Juli lalu terjadi 425 kali gempa embusan atau gempa yang dipicu adanya akumulasi tekanan yang terjadi dalam tubuh gunung. Kolom abu dari letusan kemarin teramati dengan ketinggian kurang lebih 200 meter di atas puncak. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan, kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal. Dengan pergerakan condong ke arah timur laut dan selatan.

Erupsi kemarin terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 38 mm dan berdurasi sekitar 5 menit 30 detik. Jatuhan abu vulkanis itu dilaporkan mencapai radius 1 sampai 2 kilometer.

Kabid Mitigasi Gunung Api PVMBG Hendra Gunawan menjelaskan bahwa letusan kemarin bersifat freatik. Kombinasi antara uap air dan semburan lumpur. Berdasar perhitungan PVMBG, risiko dan tingkat bahayanya masih berada di level I.

Karena itu, PVMBG masih menetapkan gunung tersebut dalam status level I (normal) dengan rekomendasi. Namun, warga di sekitar Tangkuban Parahu dan pengunjung, wisatawan, serta pendaki tidak diperbolehkan turun mendekati dasar Kawah Ratu dan Kawah Upas. “Harus mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului gejala-gejala vulkanik yang jelas,” tutur Hendra.

Jika cuaca mendung dan hujan, ada risiko semburan gas-gas vulkanis yang dapat membahayakan. “Ancaman erupsi freatik masih di sekitar kawah. Jadi, dengan status normal, cukup rekomendasi untuk tidak mendekati kawah,” jelas Hendra.

Terpisah, Kasubdit Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat Nia Haerani mengimbau warga dan pengunjung tidak mendekat ke lokasi sampai radius 2 kilometer dari kawah. Sebab, abu vulkanis sangat bisa mengganggu kesehatan jika terisap dengan jumlah yang banyak.

Faisal, salah seorang warga setempat yang sempat menyaksikan erupsi, menyebutkan bahwa dentuman letusan kecil. Tapi, tetap saja itu memicu kepanikan. Semua berlarian. “Ada suara dentuman ‘dus’ gitu, tidak kayak suara meledak. Makanya saya langsung cek ke rumah sakit, takutnya ada keluarga saya di sana,” katanya.

Ketika erupsi terjadi, Faisal mengisahkan, kondisi di sekitar memang sempat kacau. Selama 15 menit langit tertutup asap tebal. “Jadi, posisinya lagi cerah. Ada awan, langsung ngebentuklah gitu gumpalan kelihatan dari sini. Sekitar pukul 4 sore dan kondisi langsung gelap sekitar 15 menit,” terangnya.

Erupsi terakhir gunung yang lekat dengan legenda Sangkuriang itu terjadi pada Februari dan Oktober 2013. Seperti saat ini, waktu itu erupsi tak didahului kegempaan vulkanik. Hanya gempa embusan.

“Karena itu, yang terjadi saat ini kami tafsirkan adalah erupsi freatik dan dari segi intensitas ia tidak akan membesar. Mudah-mudahan tak terjadi yang lebih besar dari itu,” harap Nia ketika ditemui di Pos Pengamatan Gunung Api Tangkuban Parahu.

Penerbangan di wilayah Bandung dan sekitarnya juga dinyatakan aman. Manajer Humas AirNav Indonesia Yohanes Sirait menyatakan, hingga pukul 19.30 tadi malam, erupsi Tangkuban Parahu belum mengganggu aktivitas penerbangan.

“Sampai saat ini tidak ada rute penerbangan maupun bandara yang terdampak volcanic ash (abu vulkanis) Gunung Tangkuban Parahu. Kedua bandara terdekat, Bandara Husein Sastranegara dan Bandara Kertajati, berada di luar area volcanic ash,” ucapnya.

Mengenai rencana tetap dibukanya Tangkuban Parahu untuk pengunjung hari ini, Putra Kaban menjelaskan, sejak 2012 pihaknya dan PVMBG telah membuat kesepakatan. Dalam kesepakatan tersebut, PVMBG hanya memberikan rekomendasi. Sementara PT GRPP tetap memiliki kuasa untuk membuka atau menutup kunjungan TWA Tangkuban Parahu.

“Yang penting pengunjung tidak ke Kawah Ratu dan Kawah Upas karena selama ini memang tidak pernah diperbolehkan ke sana.” (JPC)

Komentar