oleh

Selamat Jalan Sang Punggawa

Editor : Lukman Maddu-Kolumnis-

SELASA, 30 Juli, ketika matahari belum meninggi, ayam kokok masih bersuara satu-satu. “Kak, kita sudah dengar Bapak Punggawa meninggal,” ujar, Ahmad Nunung, salah seorang wartawan senior dari balik telepon. Suaranya serak menahan tangis.

Tiba-tiba saya terduduk. Terjerembab dalam sunyi pagi. Tidak mungkin! Bukankah kabar yang saya terima Senin malam, 29/7, keadaannya semakin membaik. Bukankah para dokter di Jepang, punya kemampuan lebih, dalam dunia medis jika dibandingkan dengan banyak negara di belahan bumi yang lain.

Bukan. Bukannya kita mau mengingkari takdir, tentang sebuah ketentuan yang telah digariskan Allah azza wajallah. Bahwa semua yang bernyawa akan kembali kepadanya. Tidak juga seperti yang dikatakan Khairil Anwar, “saya ingin hidup seribu tahun lagi”.

Tapi di ujung sana. Pengharapan masih terus dibangun. Doa-doa terus di antarkan ke pintu-pintu langit, mengetuk keridhoan Allah ku. Agar Sang Punggawa sembuh dari penyakitnya, walau kita tahu, itu amat sulit. Tapi salahkah kalah kita berharap banyak kepada penguasa awal dan akhir jaman.

Tapi Allah ku memang sangat mencintai hambanya ini. Dia memanggilnya menghadap untuk memperlihatkan kebesarannya dan segala kekuasaanya–bahwa segala kebaikan yang telah dilakukan H. Ichsan Yasin Limpo, akan dibalas setimpal.

Toh, air mata memang harus tumpah. Kenangan-kenangan kembali berseliweran di antara kita, atas kebersamaan yang terbangun bersama Bapak Punggawa. “Pak Kabag, kita harus komitmen atas keputusan yang harus kita ambil. Tidak boleh bergeser sedikit pun,” ujarnya suatu waktu, saat masih menjadi Bupati Gowa.

Kita harus tegas memang, katanya lagi. Pemerintahan tidak boleh dibangun dengan main-main, karena di situ ada ratusan ribu rakyat yang berharap banyak. Apakah kita akan mengabaikan mereka. Tanyanya suatu waktu.

Karena itu, kalau kita memang tidak bisa menambah income mereka secara langsung, maka kurangilah beban hidupnya. Kurangi derita mereka. “Jangan ada rakyatku yang menggadaikan cincin kawin mereka atau harta apa saja hanya karena sekolah anak-anaknya,” ujarnya, dengan mata menerawang. Entah kemana.

Maka ketika pendidikan dan kesehatan gratis, H. Ichsan Yasin Limpo dijalankan, dia tidak skeptis sedikit pun. Baginya, rakyat adalah segala-galanya. Puluhan kepala sekolah harus dinonjobkan karena masih menarik pungutan. Tapi lagi-lagi dia memperlihatkan kebijakannya. Setelah para kepala sekolah insaf dan tahu kesalahannya, mereka ditarik kembali menjadi kepala sekolah atau jabatan lainnya.

Sang Punggawa–seperti sering saya sebutkan dalam setiap diskusi dengan teman-teman wartawan, bahwa dia sangat menghargai kejujuran. Kesalahan yang dilakukan, jika jujur mengakui, dia akan berusaha untuk memahami, dan memahami. “Jangan bohongi saya,” katanya pendek.

Dan, di makam Islam Panaikan, Kamis 1/8, Sang Punggawa berbaring tenang, menghadap sang KhalikNya. Meninggalkan begitu banyak kenangan untuk kita semua. Selamat jalan Bapak Sang Punggawa. Seperti dikatakan Ebit G Ade, “kematian itu hanya tidur panjang, maka mimpi indahlah kamu.” (**)

Komentar