oleh

Proyek Kereta Api Diduga Rugikan Pemilik Lahan, HMI Maros Angkat Bicara

Editor : Ashar Abdullah-Daerah, Maros-

MAROS, BACAPESAN.COM – Proyek pembangunan jalur rel kereta api yang melintasi beberapa kecamatan di kabupaten Maros, diantaranya kecamatan Marusu, Mandai, Turikale, Maros Baru, Lau, dan Bontoa menuai kritik dari pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Butta Salewangang Maros.

Pasalnya dalam penentuan taksasi meniadakan asas saling menguntungkan, sebaliknya merugikan masyarakat, dalam hal ini pemilik lahan.

Dalam proses pembelian lahan, taksasi hanya kurang lebih Rp. 42.000,00 sampai Rp. 62.000,00 saja tiap meter persegi. Nominal tersebut tentu merugikan warga yang lahannya digunakan sebagai jalur rel kereta api.

Pengurus HMI Cabang Butta Salewangang Maros, melalui Ketua Bidang Perguruan Tinggi dan Kepemudaan (PTKP), Jufriadi mengungkapkan bahwa dalam proses pemberian harga atau taksasi dilakukan secara sepihak.

“Taksasinya sepihak dan terkesan tertutup untuk pemilik lahan dengan dibantu oleh pemerintah setempat sebagai pengumpul dokumen lahan, ini tentu merugikan pemilik lahan,” ujarnya.

Aktivis yang akrab disapa Jufri tersebut juga menambahkan, penentuan taksasi oleh pengelola proyek jalur kereta api dilakukan secara sepihak tanpa ada pembicaraan dan kesepakatan sebelumnya dengan pemilik lahan.

“Semestinya dalam proses jual beli antara pihak pengelola proyek dan pemilik lahan mengutamakan asas saling menguntungkan. Bukannya mengambil keuntungan sepihak seperti ini, pemerintah semestinya tegas menindaki hal seperti ini, karena menyangkut masyarakat,” ungkapnya, Sabtu (03/08/2019). (*)

Komentar