oleh

Prof Dr Hamka Haq dan Ormas Islam

Editor : Lukman Maddu-Wawancara-

BACAPESAN.COM – Prof. Dr. Hamka Haq, MA, dilahirkan di Barru, Sulawesi Selatan (Sulsel), 18 Okrober 1952, 67 tahun lampau, dari pasangan K. H. Abd Qadir dan Umi Hj. Siti Hawa. Hamka Haq tamat di Ibtidaiyah 1965; Muallimin Muhammadiyah 1968; PGA Attaufiq NU, 1970; Sarjana di IAIN Alauddin Makassar, Maret 1978; Magister dan doktornya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1988 dan 1990.

Hamka Haq mengisahkan keluarganya memiliki latar belakang campuran dan pembauran ormas-ormas Islam. Ayahnya adalah Wakil Ketua Syuriah NU di Barru tahun 1960-an dan pengasuh di Madrasah DDI. Dari keluarga ibu kandungnya, semuanya Syarikat Islam. Sebagian lagi dari keluarga ayahnya bergabung Muhammadiyah. Mereka bangun sekolah Tsanawiyah Muallimin Muhammadiyah. Tapi anehnya, mereka minta ayah Hamka turut membantu sebagai Pembina Muallimin Muhammadiyah.

Hamka Haq pun pernah belajar di Muallimin Muhammadiyah itu, sebelum masuk di Madrasah Aliyah NU. Ketika masuk kuliah di IAIN, Hamka diajak oleh teman-temannya masuk di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) karena mereka tahu ayah Hamka adalah pengurus NU di Barru. Sementara keluarganya di Makassar, semuanya Muhammdiyah. Hamka mulanya kepingin masuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), karena dia adalah alumni Muallimin Muhammdiyah.

Namun, atas saran pamannya, sepupu ayah Hamka Haq, Dr. Amiruddin Aliyah, yang waktu itu menjabat Ketua HMI Cabang Makassar. Amiruddin mengajak Hamka masuk HMI. Di HMI, Hamka mengaku bisa bergaul dengan keluarganya, baik dari yang Muhammadiyah maupun teman-teman ayahnya di NU.

Belakangan paman Hamka, Amiruddin Aliyah menikahi Zohrah Kalla, adik kandung Bapak M. Jusuf Kalla (JK). Dengan begitu, Hamka pun jadi dekat dengan keluarga JK. Kedekatan dengan JK lebih intensif lagi setelah Hamka meraih gelar doktornya diIAIN Jakarta. Selama Hamka dipercaya sebagai Sekretaris MUI Sulawesi Selatan dan Pak JK, anggota pleno Musytasyar MUI Sulsel, memungkinkan mereka sering bertemu.

Hubungan Hamka makin intensif ketika Pak JK ditunjuk sebagai Ketua Harian Al Markaz Islami oleh Jend. TNI Purn M. Jusuf, Hamka ditunjuk sebagai Sekretaris Harian, mendampingi Prof. Dr. Anwar Arifin, Sekretaris Umum.

Ketika terjadi konflik di Ambon, Poso, dan Sampit, Hamka bersama Pak JK dkk membentuk Forum Antar-Umat Beragama (FAUB). Pak JK sebagai Ketua dan Hamka, Wakil Ketua. Ketika Pak JK diangkat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) oleh Preiden Megawati, beliau mensupport FAUB, dengan melaksanakan “Temu Tokoh Agama Nasional. Hamka Haq sebagai Ketua Panitianya di Balai Manunggal Jend. M. Jusuf Makassar, dihadiri sekitar 300 peserta dari seluruh Provinsi se-Indonesia. Setelah itu, Pak JK pun minta Kementerian Agama membentuk forum, menyontoh FAUB, itulah awal terbentuknya FKUB se-Indonesia.

Hamka Haq juga mengaku telah mengikuti Basic Training (Bastra) HMI, waktu Dr. Amiruddin Aliyah Ketua Cabang HMI Makassar, dan Radhi Al Hafidh Ketua Komisariat HMI di IAIN Alauddin, 1971. Hamka menjadi peserta Bastra, seangkatan Bapak Drs. Suaib Mallombasi dari Gowa, Ismail Adam dari Maros.

Pekan lalu, Prof. Dr. Hamka Haq termasuk salah satu Pengurus DPP PDIP yang telah dilantik oleh Megawati, Ketua Umum terpilih, 2019-2024, sebagai Ketua Bidang Agama dan Kepercayaan di Bali. Nama Hamka santer disebutkan sebagai salah satu nominator calon Menteri Agama dari jatah jumbo PDIP di Kabinet Jokowi Jilid Dua. Semoga. (Saleh Mude)

Komentar