oleh

Prof Nasaruddin Umar Bawakan Takziah ke 7 di Rumah Alm BJ Habibie

Editor : Lukman Maddu-Nusantara-

JAKARTA, BACAPESAN.COM – Rabu Malam, 18 September 2019 adalah hari ketujuh wafatnya alm Bapak BJ. Habibie. Saya dan istri menjadi saksi berjubelnya ribuan jemaah dari berbagai kalangan yang antri ingin ikut mendoakan BJ. Habibie dan puluhan aparat Paspampres (Pasukan Pengamanan Kepresidenan) di sekitar komplek “Pendopo Habibie & Ainun,” di kawasan Patra Kuningan, Jakarta. Saya sempat bertanya ke salah seorang aparat, siapa yang akan hadir, Presiden atau Wakil Presiden? “Presiden,” jawab aparat. Tapi hingga seluruh acara selesai, Presiden Jokowi tidak kelihatan.

Prof. Dr. M. Nasaruddin Umar yang membawakan tausiyah dan dilengkapi testimoni oleh Bapak Ir. Akbar Tanjung. Sebelumnya pihak keluarga Habibie diwakili oleh Ilham Akbar Habibie membawakan sambutan, kembali menyinggung makna sosok Bapaknya, Habibie sebagai seorang visioner dan pecinta dalam berbagai hal. ”Bapak itu adalah seorang visioner yang ingin teknologi memberi manfaat kepada banyak orang. Bapak itu telah memberi contoh kita mengenai cinta. Cinta kepada istri-anak, sanak saudara, pekerjaan, dan cinta kepada bangsa dan negara.

Prof. Nasaruddin mengawali kuliah taksiyah-nya dengan mengutip Hadis Nabi, “Lenyapnya sebuah kafilah lebih enteng dibanding wafatnya seorang alim dan setetes tinta Ulama lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada ribuan darah syuhada yang meninggal di medan perang seperti ditulis oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, Bab Ilmu.

Kita semua merasa kehilangan atas kepergian guru besar Bapak Prof. Dr. BJ. Habibie. Alm Habibie adalah seorang ilmuan besar yang mampu menyatukan ilmu, teknologi, iman, dan amal. Hampir semua orang alim, tercerdas seperti Pak Habibie memiliki personal teacher. Seperti halnya, misalnya Ibnu Rushd, memiliki dimensi sempurna, paginya berprofesi sebagai seorang dokter bedah, siangnya menjadi filosof dan pemikir, sorenya menjadi qadhi, ahli hukum Islam, dan malamnya menjadi seorang sufi. Ada kemiripan Pak Habibie yang menyatukan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan menjadikan Islam dan demokrasi kompatibel,” lanjut Nasaruddin.

“Kita semua menjadi saksi betapa banyaknya orang meng-shalatkan dan mengantar Pak Habibie ke peristirahatan terakhirnya. Kita ini adalah anak intelektual dan spiritual Pak Habibie. Kita bersama anak biologisnya malam ini mendoakan Pak Habibie, semoga mendapat tempat dan derajat yang tinggi di sisi Allah Swt,” pungkas Nasaruddin. Di-amien-kan oleh seluruh jemaah.

Sementara Ir. Akbar Tanjung mengkisahkan dirinya ketika beberapa kali diajak rapat-rapat terbatas dan didukung kuat ketika akan maju sebagai calon dan terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar oleh Presiden Habibie. “Saya tidak bisa melupakan jasa baik Bapak Habibie, saya sempat membesuk di RSAD Gatot Subroto dan ingin mencium pipinya, tapi tidak memungkinkan karena sudah banyak keluarga berkumpul. Setelah magrib (Rabu lalu), istri saya melihat di TV, dan memberitahu saya Pak Habibie telah wafat, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun,” kata Akbar Tanjung sambil terisak. (Saleh Mude)

Komentar