oleh

Sulsel Dilanda Kekeringan

Editor : Lukman Maddu-Headline, Metro-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Bencana kekeringan akibat musim kemarau tengah melanda Sulawesi Selatan. Dinas Tanaman Pangan, Ketahanan Pangan dan Hortikultura (TPKPH) Sulsel mencatat ada sekitar 30 ribu hektare lahan sawah mengalami kekeringan.

Kepala Dinas TPKPH, Fitriani mengatakan, khusus yang mengalami kekeringan, petani diminta agar secepatnya mengajukan proposal untuk segera diberikan bantuan alat pompa air.

“Saat ini kurang lebih 30 ribu hektare yang terkena dampak kekeringan. Tapi ada kering sedang, kering ringan dan ada juga sudah puso. Jadi sesuai arahan Gubernur yang kami teruskan ke kabupaten/kota, khusus yang punya sumber air agar segera mengirim proposal ke kami untuk bisa dibantu pengadaan pompa air,” kata Fitriani, kemarin.

Kondisi Sulsel kata dia, terdapat beberapa kondisi kekeringan yang berbeda, sehingga meski terkena kekeringan masih ada daerah yang panen.

“Ada yang kering, ada yang sementara panen, itu kondisinya Sulsel. Kita sudah pantau di lapangan, kering memang, tapi di harapkan mudah-mudahan hujan di November sudah mulai,” lanjut dia.

Menurut Fitri–sapaan akrab Fitriani, cuaca di Sulsel masih lebih baik dibanding kondisi cuaca di daerah lain, seperti Pulau Jawa dan Sumatera.

“Untungnya kekeringan kita ini tidak seperti kekeringan di Jawa dan Sumatera. Kita kering masih bisa ada tanam dan ada panen. Termasuk daerah Luwu kesana, peralihan itu yang setiap saat bisa ada hujan mereka masih bisa menanam. Kecuali bagian barat yang punya puncak kering itu pada bulan September-Oktober itu perlu waspada dan terus koordinasi dengan stakeholder terkait tentang bagaimana meringankan kekeringan ini,” paparnya.

Adapun daerah di Sulsel yang banyak mengalami puso atau gagal panen, yakni Kabupaten Soppeng dan Wajo. “Jangan khawatir bagi daerah yang kena puso, akan mendapat bantuan pompa air, tetapi khusus bagi mereka yang masuk asuransi usaha tani diharapkan secepatnya dapat melakukan klaim asuransinya,” jelasnya.

Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah IV, Darmawan menjelaskan, prediksi BMKG terkait peralihan musim kemarau ke musim hujan, termasuk perkiraan waktu puncak musim hujan bisa menjadi acuan pemerintah daerah, kabupaten/kota untuk mempersiapkan berbagai kemungkinan, termasuk menghadapi banjir, longsor, hingga angin kencang.

“Informasi ini bisa menjadi rujukan pemerintah daerah untuk bersiap-siap menghadapi musim hujan,” ungkapnya.

Komentar