oleh

KEKUASAAN

Editor : Lukman Maddu-Kolumnis-

MAX Weber menuliskan dalam Buku Wirtschaft und Gessellshaft pada tahun 1992 bahwa Kekuasaan adalah kemampuan untuk, dalam suatu hubungan sosial melaksanakan kemauan sendiri sekalipun mengalami perlawanan dan apapun dasar kemampuan ini (Macht beduetet jede chance innerhalb einer soziale Beziehung den eigenen Willen durchzusetchen auch gegen Widerstreben durchzustzen, gleichviel worauf diese chance beruht).

Hari-hari terakhir dalam kurang lebih sebulan ini, kita disuguhi panorama melubernya amarah di ruang-ruang publik, jalan-jalan utama, pelataran kampus, gedung dewan terhormat, kantor pemerintah, teriakan suara penuh amarah, dari orang-orang yang hampir kehilangan rasa putus asa, pada kenyataan hidup.

Di lain sisi tragedi kekuasaan telah memenggal harapan rakyat atau orang yang dikuasai menjadi linangan darah dan air mata, sebagai pelampiasan rasa dendam, rasa marah pada elemen dan instrumen kekuasaan. Indonesia kembali menangis. Wacana kebangsaan seperti kertas dilalap api, kian pupus dan nyaris lenyap menjadi tak berbekas.

Kekuasaan adalah suatu hubungan dimana seseorang atau sekelompok orang dapat menentukan tindakan seseorang atau kelompok lain ke arah tujuan dari pihak pertama. Begitu Harold D. Laswell dan Abraham Kaplan, menuliskan pendapatnya. Suatu hubungan yang memaksa.

Barbara Goodwin (2003) menulis, Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengakibatkan seseorang bertindak dengan cara yang oleh yang bersangkutan, dan tidak akan dipilih seandainya ia tidak dilibatkan. Dengan kata lain memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendaknya. Jelaslah bagi kita kekuasaan acapkali diikuti “emosi” mengendalikan “mereduksi” hak-hak orang yang bukan menjadi bagian dari orang-orang atau lembaga.

MacIver menggambarkan Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengendalikan tingkah laku orang lain, baik secara langsung dengan memberi perintah, maupun secara tidak langsung dengan mempergunakan segala alat dancara yang tersedia memaknainya tak selamanya harus mengaitkannya dengan “kekerasan”, karena kajian sosial mengenal batasan lain tentang “persuasif” atau “empati”. Hanya kadang kita tak mudah menemukannya dalam praktik nyata, terlebih jika “amarah” telah tumpah dan merebak di jalan-jalan yang dulunya senyap.

Rusel menuliskan Kekuasaaan merupakan suatu produksi dari akibat yang diinginkan. Kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang mempengaruhi. Begitu Ramlan Surbakti menguatkannya.

Bierstedt melanjutkan pandangannya, Kekuasaan yaitu kemampuan untuk mempergunakan kekuatan. Fenomena amarah massa mahasiswa, yang dibeberapa hari terakhir ini menjadi suguhan informasi sarapan pagi kita, tentu tidak jauh dari apa yang telah para ahli paparkan di atas.

Kini di 1 Oktober 2019, bayangan kita tentang Kesaktian Pancasila tengah mengalami distorsi, Papua membara dan menuntut merdeka. Mereka bukan saja marah melainkan membunuh. Semua atas dasar kekuasaan, sesuatu yang sifatnya sangat memaksa, mengabaikan prinsip kemanusiaan, yang menjadi cita-cita mulia lahirnya sebuah kekuasaan.

Rogers berharap dalam teorinya bahwa, Kekuasaan adalah kemampuan seseorang untuk mengubah orang atau kelompok lain dalam cara yang spesifik, telah termaknai sebagai hak untuk memaksa pribadi atau kelompok manusia lain, agar tunduk dan patuh pada kehendak pribadi atau pihak lainnya. Di atas dasar itulah pemaksaan kehendak berjalan, atas nama kekuasaan.

Di hari-hari yang melelahkan batin ini, kita akan terus disuguhi parade hasrat kekuasaan, berbalut rasa amarah, merusak, melukai, bahkan mungkin membunuh. Manusia menjadi alat perusak yang paling mengerikan. (**)

Oleh: Zulkarnain Hamson
(Wakil Rektor IV UIT)

Komentar