oleh

“Risks Exposure” Produk dalam Bank Syariah

Editor : Ashar Abdullah-Kolumnis-

Risiko adalah ketidakpastian yang berdampak pada sasaran, (ISO 31000). Risiko dalam bidang perbankan merupakan suatu kejadian potensial baik yang dapat diperkirakan (anticipated) maupun tidak dapat diperkirakan (unanticipated) yang berdampak negatif pada pendapatan maupun permodalan bank. Risiko tersebut tidak dapat dihindari namun dapat dikelola dan terkendali. Kita perlu bekerja dalam lingkungan yang terkendali, bukan lingkungan yang dikendalikan. Resiko ini haruslah diidentifikasi sedemikian rupa untuk dapat diminimalisir potensi terjadinya. Seperti juga perbankan pada umumnya, maka bank syariah juga memerlukan prosedur dan tata kelola yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, respon, dan monitoring resiko yang timbul dari aktivitas bisnis yang dilakukan.

Rosly dan Zaini (2008) mengemukakan bahwa, sifat risiko yang dihadapi oleh pemilik modal di bank syariah bervariasi dan unik sesuai dengan jenis instrumen keuangan yang digunakannya untuk mengelola bank dan tingkat transparansi. Hassan dan Dicle (2005) menjelaskan bahwa risiko yang terkait dengan masing-masing produk selanjutnya dapat dipecah menjadi major risk dan non-major risk. Major Risk berarti risiko yang mendominasi produk yang digunakan. Karena sifat unik dalam setiap produk yang ditawarkan oleh bank syariah, Kahf (2005) berpendapat bahwa bank syariah memerlukan varian “proses identifikasi risiko”, pendekatan & teknik manajemen risiko yang berbeda dan memerlukan jenis pengawasan yang berbeda pula.

Dalam iImplementasi perbankan syariah saat ini, dapat diklasifikasikan bahwa ada tiga faktor yang akan mempengaruhi total risiko yang dihadapi oleh bank syariah; i) risiko berasal dari klasifikasi baru pemegang deposito, ii) risiko di bank syariah akan tergantung pada tingkat cakupan rasio beban bunga (pendapatan operasional bersih di atas biaya bunga), dan iii) risiko terkait dengan status baru pinjaman yang diberikan oleh bank syariah. Pada dasarnya faktor pertama dan kedua akan cenderung menurunkan tingkat risiko di bank syariah, namun faktor ketiga yang terkait dengan status pinjaman yang diberikan oleh bank, karena bank syariah juga menawarkan pinjaman ataupembiayaan berdasarkan bagi hasil akan meningkatkan risiko ke bank.

Data statitik 5 tahun terakhir merupakan trend yang dapat digunakan sebagai asumsi untuk memprediksi potensi jumlah pembiayaan ditahun 2019-2020 oleh bank syariah di Indonesia.

Hasil data statistik Perbankan Syariah, Desember 2018 dalam laporan tahunan OJK menunjukkan bahwa, jumlah semua konsep pembiayaan untuk bank syariah di Indonesia akan terus stabil dalam komposisi produknya setiap tahun.

Berdasarkan data statistik produk Murabahah adalah salah satu konsep yang diprediksi akan memiliki peningkatan yang sangat besar dalam jumlah pembiayaan yang diikuti oleh Musyarakah dan Mudharabah. Hasil trend tersebut, memberikan sinyal bahwa jumlah risiko yang terkait dengan pembiayaan itu juga akan meningkat. Dengan demikian dapat diartikan bahwa bank syariah membutuhkan manajemen risiko yang lebih baik untuk memastikan bahwa risiko berada pada level minimum.

Risiko pada bank syariah pada dasarnya akan dipengaruhi oleh tiga faktor. Pertama adalah karena sifat konsep instrumen atau produk yang ditawarkan oleh bank syariah. Misalnya pembiayaan berbasis ekuitas meningkatkan eksposur risiko ke bank syariah. Kedua adalah karena kepatuhan syariah. Karena operasi bank syariah terikat dengan prinsip Syariah, instrumen manajemen risiko tertentu tidak dapat digunakan oleh bank syariah seperti lindung nilai dan derivatif kredit.

Kurangnya standardisasi dan regulasi di antara negara-negara yang menawarkan perbankan syariah juga telah diidentifikasi sebagai salah satu faktor yang meningkatkan tingkat risiko di bank-bank Islam.

Pembiayaan produk bank Syariah sebagai solusi dapat menunjukkan potensi untuk mendukung program pemerintah utamanya pembiayaan sektor riil dan menjaga potensi krisis prekonomian. Produk pembiayaan bank Syariah diprediksi terus meningkat sehingga sangat berarti bahwa bank syariah membutuhkan manajemen risiko yang tepat untuk memenuhi permintaan yang meningkat. Manajemen risiko yang tepat penting untuk memastikan kelangsungan hidup bank syariah di masa depan. (*)

Komentar