oleh

Penghapusan UN Perlu Ditinjau Ulang

Editor : Lukman Maddu-Headline, Metro-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana akan menerapkan sistem penilaian baru pengganti ujian nasional (UN). Sistem yang dinamai Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) ini diklaim lebih efektif sehingga tepat guna dalam mengukur kemampuan siswa.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Pendidikan Sulsel Adi Suryadi Culla mengatakan, Ujian Nasional atau UN merupakan instrument untuk memetakan mutu atau kualitas peserta didik dissitem pendidikan. Sehingga, penghapusan UN perlu ditinjau ulang dengan mengkaji lebih dalam.

“Saya tidak mengatakan menolak atau juga menerima. Saya pertanyakan instrument apa yang menggantikan UN itu kalau dihapus, jangan dihapus lalu kita tidak punya alat ukur,” papar Adi, Jumat (29/11).

Menurut Adi Suryadi Culla, penghapusan UN dinilai sebagai langkah pragmatis pemerintah. Apalagi, jika dikaitkan dengan anggaran dimana costnya untuk melaksanakan UN sangat besar. Meski begitu, pemerintah harus menemukan solusi agar penghapusan UN ini kontra-produktif.

“Sekali lagi memang perlu dikaji dan diperjelas untuk mengukur mutu pendidikan jika UNini benar-benar dihapus. Soal alasan anggaran yang besar itu bias,” ucapnya.

Dikatakan Adi—sapaan karibnya, upaya pemerintah untuk menghilangkan UN mestinya secara bertahap atau seleksi. Artinya, penghapusan UN ini dilihat dari kebutuhan setiap satuan pendidikan yang ada.

“Apakah semua sekolah dihapus UN? Ataukan ada tingkatan pendidikan yang dipertahankan artinya masih ada pelaksanaan UN, apakah di SD atau dimana,” ucapnya.

“Pemerintah ini kalau bikin keputusan tidak melibatkan daerah. Artinya, memang perlu dirembuk secara nasional, jangan membuat aturan seenaknya tapi daerah kena imbas,” tambahnya.

Ditanya soal plus-minus, kata Adi, setiap hal pasti memiliki hal itu. Jika dilihat dari keuntungannya, terjadi efesiensi dan efektif anggaran. Kemudian, peserta didik tidak mengalami tekanan belajar.

“Kalau minusnya, tidak ada instrument untuk mengukur mutu pendidikan. Kedua, dorongan memicu dan memacu semangat kompetisi siswa,” tandasnya. (Arman)

Komentar