oleh

Mansyur MS, KKSS Menuju Pulau Harapan

Editor : Ashar Abdullah-Kolumnis-

H. Mansyur adalah putra pasangan H. Silo dan Hj. Raji, kelahiran Maros, Sulawesi Selatan, 20 Desember 1963. “Saya ini adalah perpaduan, Bugis Maros dan Bone, Bapakku dari Maros dan Ibuku dari Bone,” kata Mansyur, memulai percakapannya dengan penulis di sebuah restoran Timur Tengah di Pekanbaru, akhir November 2019.

Mansyur berkisah ketika berumur lima tahun, dia dipanggil Anchu, ikut orang tuanya hijrah ke kota Makassar. Seusai lulus di SMAN 4 Makassar, Mansyur beruntung mendapat jalur undangan dari Panitia Seleksi bebas tes, Proyek Perintis (PP) masuk ke Institut Pertanian Bogor (IPB), Fakultas Kehutanan dan tinggal di Asrama Latimojong Bogor bersama salah satu seniornya, Bapak Dr. M. Said Didu, tahun 1982.

Tahun 1988, bermodalkan sarjana IPB, Mansyur melamar dan diterima bekerja di salah satu perusahaan Prayogo Pangestu, Barito Pasifik Group, suplayer bahan baku kayu di Maluku Utara. Setahun kemudian, dia mendapat promosi sebagai Kepala Departemen di kota Pekanbaru, Riau, sejak 1989 hingga 1994. Selama lima tahun bekerja di perusahaan itu, Mansyur mengaku mendapat banyak pengalaman.

Tahun 1994 adalah babak baru dalam hidup seorang Mansyur. Dia bergabung dengan Partai Keadilan (PK), yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Selama aktif di PKS, Mansyur merasa kentalnya aroma dunia politik di tanah air dan ibadahnya kepada Allah berjalan lancar dan bagus, usaha bisnisnya di bidang buku “Toko Buku Sakinah” dan konstruksi juga berjalan. Kariernya sebagai politisi perantau di bumi Melayu juga cukup diperhitungkan, terbukti terpilih dua periode sebagai Anggota DPRD Provinsi Riau, Ketua dan Wakil Fraksi di Komisi 2 bidang Ekonomi dan Keuangan, dan di Komisi 4 bidang Pembangunan Infrastruktur. Mansyur merasa bersyukur sudah 30 tahun merantau dan memiliki jaringan luas di kota Pekanbaru.

Selain aktif di Partai Politik dan mengelola bisnisnya, Mansyur yang lebih akrab disapa oleh koleganya “Pak Haji” juga aktif di beberapa organisasi sosial dan profesi, seperti di HMI, KAHMI, KKSS, dan Organisasi Kehutanan Seluruh Indonesia.

Sejak 2019, Mansyur dipercaya oleh Perantau asal Sulawesi Selatan yang bermukim di Provinsi Riau untuk menjadi kepala suku atau Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) Riau masa bakti 2019-2024. Mansyur merasa bersyukur bisa dipercaya. “Sebagai Ketua BPW KKSS Riau, saya merasa dapat berkomunikasi dan bersilaturahmi dengan sesama perantau sekampungnya di Riau,” ungkap Pak Haji.

Mansyur mengaku, di KKSS ada rasa persaudaraan yang kental, ditemukan suasana kesamaan bahasa dan makanan kuliner khas daerah, Bugis-Makassar. “Kami selalu menciptakan suasana sipakatau, sipakatuwo, sipakaraja di Riau, seperti bersaudara kandung. Kami merasa penting untuk saling kenal-mengenal antar-perantau itu di bumi Melayu, seperti firman Allah dalam Surah Al-Hujarat, “kita diciptakan berbeda-beda untuk saling kenal-mengenal,” lanjut Mansyur.

KKSS Menuju Pulau Harapan

Mansyur bersyukur dapat menjadi peserta pada Musyawarah Besar KKSS XI 2019 di Surakarta, Jawa Tengah 15-17 November 2019 lalu. Mansyur adalah ketua delegasi BPW dan BPD se-Provinsi Riau.

Atas keterpilihan Bapak Muchlis Patahna (MP) sebagai Ketua Umum BPP KKSS Masa Bakti 2019-2024, Mansyur berharap MP dapat menjadi matahari tunggal, pemegang kemudi “Perahu Besar KKSS menuju Pulau Harapan”. “Semoga MP mengajak kita semua ikut mendayung menggerakkan organisasi KKSS dari pusat hingga ke daerah,” harapnya.

Mansyur HS telah meraih program magisternya dan kini sedang menyelesaikan program doktoralnya di salah satu universitas, Jakarta. Mansyur memperistri putri pilihannya, asal Sinjai-Bulukumba, Hj. Mardiana dan telah memiliki empat putra-putri. M. Saleh Mude.

Wawancara khusus ini berlangsung di kota Pekanbaru, akhir November 2019.

Komentar