oleh

Ada 8000 Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan di Sulsel

Editor : Lukman Maddu, Penulis : Hikmah-Metro-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Isu pencucian uang atau yang disebut money laundering bukan lagi menjadi permasalah baru di Indonesia.

Tercatat sekitar 30 tahun isu pencucian uang ini merebak dan menyita perhatian dunia. Data dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), secara nasional Sulawesi Selatan menempati urutan ke 8 maraknya laporan mengenai transaksi keuangan mencurigakan.

“Sekitar 8000 laporan mengenai transaksi keuangan mencurigakan sejak tahun 2010 hingga 2019 terjadi di Sulawesi Selatan, 3500 diantaranya terindikasi tindakan pidana,” kata Vice Head of PPATK, Dr Dian Ediana Rae dalam Media Briefing Anti money laundering yang Digelar Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan, Jumat (10/01/2019).

Dari 8000 transaksi keuangan mencurigakan di Sulawesi Selatan, Makassar mendominasi sebagai tempat yang paling rawan terjadi transaksi keuangan mencurigakan.

“Sebesar 60 persen kasus pencucian uang terjadi di Makassar, disusul kemudian Parepare,” jelas Dian.

Lebih lanjut, ia mengatakan beberapa kasus yang mendominasi di Sulsel diantaranya terkait korupsi, penipuan dan penggelapan.

“Semakin tinggi kegiatan perekonomian makan semakin tinggi pula potensi pencucian uang,” tambahnya.

Oleh karena itu kata Dian, kasus pencucian uang ini harus secara serius ditangani.

“Kesadaran perbankan terhadap siapa kliennya harus lebih lagi, jangan sampai pencucian uang ada ditempat anda,” imbaunya.

Terakhir kata Dian, pencapaian pertumbuhan ekonomi yang saat ini telah mencapai angka menggembirakan semestinya bisa lebih baik lagi jika praktek pencucian uang bisa di tekan dan efek jera pada pelakunya bisa diberikan

“Seandainya ekonomi kita ingin dibuat lebih baik lagi makan penanganan pencucian uang harus difokuskan,” tutupnya. (*)

Komentar