oleh

Deng Ical Ogah Jadi “Ban Serep” Appi

Editor : Ashar Abdullah, Penulis : Yadi-Headline, Pilkada, Politik-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Skenario paket jelang Pilwalkot Makassar menjadi perbincangan hangat. Beberapa kandidat sudah mulai dikaitkan akan berpaket.

Salah satu yang menjadi perbincangan yakni paket Munafri Arifuddin-Syamsu Rizal (Appi-Deng Ical). Paket ini dinilai paling tangguh dan akan jadi ancaman besar bagi kandidat lainnya. Hanya saja, paket itu masih sebatas wacana.

Syamsu Rizal menegaskan, wacana yang berkembang di masyarakat yang menempatkan dirinya sebagai calon 02 bersama Appi itu tidak benar.

“Biarkan masyarakat yang menilai dan mengambil kesimpulan, yang jelas saya belum tentukan sikap 02 atau wakil di salah satu figur. Baik Appi atau lainnya,” tegas Deng Ical, Rabu (12/2).

Deng Ical yang kini menjabat wakil ketua DPD I Golkar Sulsel menegaskan, bahwa dorongan dirinya menjadi 02 bersama Appi hanya wacana yang disampaikan oleh segelentir orang yang dekat dengan calon tertentu.

Oleh sebab itu, lanjut mantan Wakil Wali Kota Makassar itu, jauh hari sebelum tahapan Pilkada Makassar, dirinya sudah melakukan sosialisasi dan komunikasi dengan partai untuk maju sebagai 01 bukan 02. “Tidak ada dalam kamus saya calon 02 di Pilkada 2020 ini,” tegasnya.

Deng Ical menegaskan sudah melirik beberapa figur untuk dijadikan sebagai wakil. Hanya saja figur itu masih dalam tahap survei sehingga akhir Februari akan disampaikan.

“Saya belum tentukan sikap partai apa, dan calon wakil saya bersama siapa. Yang jelas kita masih survei. Ada perwakilan perempuan, politisi, birokrat dan pengusaha,” pungkasnya.
Pengamat Politik Unhas Makassar, Adi Suryadi Culla menyampaikan, Makassar termasuk daerah yang bertarung dengan mengandalkan partai politik.

“Belum ada calon via jalur independen yang menang. Atas dasar itu, semua bakal calon akan mati-matian untuk bisa mendapatkan partai sebagai kendaraan politik,” ujarnya.

Menurut Adi, dari semua figur yang muncul, nama Appi dan Deng Ical memiliki posisi tawar dan latar belakang yang kuat untuk dapat bertarung menjadi Wali Kota Makassar. Punya basis pendukung yang kuat.

“Masing-masing juga sudah pernah bertarung dalam pemilihan wali kota sehingg modal mereka cukup kuat dan unggul,” tutup dia.

Sementara, Pengamat Politik Universitas Bosowa, Arif Wicaksono menilai, wacana paket yang saat ini tersebar dipublik masih menjadi drama politik. Sebab, hasil akhir ada pada partai pengusung.

“Sekarang memang sedang banyak lembaga yang memainkan simulasi paket, tapi sebenarnya paket calon wali kota dengan calon wakil wali kota itu nanti setelah ada usungan atau dukungan partai politik, karena partai politik juga punya hak untuk memajukan kadernya dalam kontestasi pilkada,” tegas Arif.

Menurut Arif, semua bakal calon memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk memenangkan kontestasi di Pilwalkot. Hanya saja, peluang itu memiliki kadar masing-masing.

Sementara, Pengamat Politik Universitas Hasanuddin, Sukri Tamma mengatakan, peran wakil dalam setiap kontestasi memiliki dua fungsi. Pertama, alat tawar politik baik dari calon kepala daerah maupun dari partai koalisi. Kedua, wakil sebagai pelengkap dari titik lemah cakada sehingga posisinya krusial dalam peta politik.

Komentar