oleh

Telan Anggaran Rp36,8 Miliar, Fasilitas BRT Mulai Tak Berguna dan Hancur

Editor : Ashar Abdullah-Headline, Metro, Pemerintahan-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM — Program Bus Rapid transit (BRT) Mamminasata tak mulus. Imbasnya, halte yang dibangun tak terurus.

Berdasarkan pantauan, kondisi beberapa halte BRT Mamminasata memprihatinkan. Benar-benar sudah tak berguna. Halte di sepanjang Jl Sultan Alauddin penuh vandalisme. Dinding halte penuh coretan.

Bahkan di beberapa titik halte, kondisinya hancur. Kaca halte dekat kantor LPMP Sulsel misalnya, hancur hampir di semua sisi. Begitu juga kaca halte depan kampus UMI juga pecah di bagian sampingnya.

Hanya halte di samping pintu keluar kantor Gubernur yang relatif masih bagus kondisinya. Kaca tak pecah dan bersih dari coret-coretan.

Beberapa halte dijadikan titik parkir kendaraan. Beberapa bagian sudah karatan dan bau pesing.

Program BRT yang bisa dibilang mati suri, membuat halte tak terawat. Perum Damri yang menjadi operator bus, terus mengalami kerugian. Dampaknya, Damri mengurangi koridor yang dilayaninya.

Kepala UPT Transportasi Mamminasata, Prayudi Syamsibar kepada FAJAR, mengatakan di area Mamminasata ada sekitar 154 halte. Pemprov Sulsel mulai menguji BRT sejak 2013 dan membangun halte secara bertahap.

Pemprov Sulsel mulai membangun halte BRT secara bertahap sejak 2013. Hingga 2015, pemprov sudah menghabiskan anggaran hingga Rp20,4 miliar.

Pada 2014, pembangunan halte BRT sebanyak delapan unit. Pembangunannya menyedot anggaran sangat besar. Nilainya mencapai Rp7,4 miliar lebih.

Sesuai data hasil lelang proyek pada Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Pemprov Sulsel 2014 lalu, pagu anggaran proyek ini sebesar Rp7,8 miliar. Total penawaran yang masuk ada 21 perusahaan.

Jika anggaran Rp7,4 miliar dibagi rata untuk delapan unit halte yang dibangun, rata-rata satu halte harganya sekitar Rp925 juta lebih.

Komentar