oleh

Pemkot Parepare Surati Kemenhub Terkait Penutupan Sementara Pelabuhan Nusantara

Editor : Kalmasyari-Berita, Daerah, Parepare-

PAREPARE, BACAPESAN.COM – Pemerintah Kota Parepare, Sulawesi Selatan telah melayangkan surat kepada Dirjen Perhubungan Republik Indonesia (RI) mengenai usulan penutupan aktivitas Pelabuhan Nusantara Parepare dalam menanggulangi penyebaran virus Corona (Covid-19).

Dalam surat tersebut ada dua opsi yang diusulkan oleh Pemerintah kota.

“Kita sementara mengajukan ke Kemenhub untuk usulan penutupan pelabuhan. Ada dua opsi yang kami usulkan, yakni, opsi penutupan pelabuhan untuk merapatnya kapal penumpang, dan pembatasan kapal penumpang yang merapat di pelabuhan, selanjutnya kami menunggu tanggapan dari Kemenhub RI” jelas Sekretaris Daerah Kota Parepare, Iwan asaad saat dihubungi, Kamis, (2/4/2020).

Iwan mengungkapkan, kebijakan tersebut diambil sebagai bentuk pencegahan wabah virus Corona bagi penumpang dari berbagai daerah di Pelabuhan Nusantara Parepare. Iwan pun menekankan, kebijakan tersebut hanya untuk kapal penumpang, tidak untuk kapal yang membawa barang maupun sembako.

“Kapal angkutan barang dan membawa sembako tetap berjalan, ini hanya untuk kapal penumpang,”terangnya.

Terpisah, Ketua Tenaga Kerja Bongkar Muat ( TKBM) Parepare, Yasser Aslan Tjanring berharap ketika akses bungkar muat barang dan penumpang di pelabuhan antar pulau tersebut akan ditutup, pihaknya berharap sudah ada solusi khususnya terkait ekonomi para buruh.

“Kita sudah lakukan pertemuan, dan tak ada buruh yang keberatan ketika pelabuhan ditutup, sepanjang ada solusi dari pemerintah. Karena 650 anggota TKBM, bergantung dari penghasilan sebagai buruh panggul di pelabuhan,” katanya.

Yasser memaparkan, rata-rata buruh bisa menghasilkan upah dari penumpang turun yang barangnya diangkut antara Rp300-Rp400 ribu perminggu. Itupun, kata dia, tergantung dari jumlah penumpang turun yang menggunakan jasa buruh.

“Dan semua buruh yang tergabung di TKBM, adalah warga Parepare. Ketika mereka harus tinggal di rumah, kita harap pemerintah memikirkan nasib keluarga mereka,” ungkapnya.

Yasser menjelaskan, Alat Pengaman Diri (APD) yang digunakan para buruh ketika beraktifitas saat ada bongkar muat barang dan penumpang pun, belum terlalu memadai. Dari TKBM sendiri, katanya, sudah menfasikitasi seluruh buruh dengan masker berbahan kain. Selain disiapkannya 10 unit tempat cuci tangan bagi para buruh, oleh pihak Pelindo.

“Kami juga berharap, ada bantuan sarung tangan, entah itu dari pemerintah atau pihak pelabuhan. Karena kontak dengan penumpang turun, tidak bisa dihindari. Mungkin tangan tidak bersentuhan, tapi buruh tentu harus kontak langsung dengan barang bawaan penumpang,” paparnya.

Sulitnya physical distancing atau menjaga jarak fisik, kata Yasser lagi, memposisikan buruh menjadi rentan terhadap penularan virus. Meski begitu, kata dia, edukasi tatap dilakukan terhadap para buruh, yang secara intens diingatkan agar mencuci tangan setiap setelah melakukan aktifitas.
(***)

Komentar