oleh

Korona Laksana tsunami

Editor : Ashar Abdullah-Kolumnis-

Oleh : Bunyamin M Yapid

Tsunami adalah bencana alam yang murni tanpa bisa di rekayasa manusia siapa pun, namu korona adalah musibah yang melanda dunia yang muncul awalnya di wuhan cina di ahir tahun 2020 M, yang kemudian ahir bulan februari 2020 menyebar keseluruh belahan dunia di semua benua.

Tsunami dan korona adalah keduanya merubakan musibah, namun tsunami bencana alam atau musibah yang tidak bisa di rekayasa manusia, sementara korona musibah yang bisa di buat dan di grand desain oleh manusia dengan kepentingan tertentu, karena korona datangnya dari virus yang di kenal dengan covid-19 karena munculnya di ahir tahun 2019.

Kenapa saya katakan bahwa korona bisa di rekayasa oleh manusia karena wabah virus ini bisa di buat oleh manusia.

Terlepas itu semua, saya membahasakan bahwa korona ini laksana tsunami, di mana hampir semua usaha dan pergerakan manusia lumpuh total akibat korona ini, semua usaha tutup, semua kantor di liburkan, sekolah di liburkan dan semuanya di anjurkan berada dalam rumah atau di dalam perahunya masing-masing.

Untuk selamat dari badai korona ini, maka hemat saya kita pakai falsafah tsunami, bagaimana di saat kita semua di atas air, apa yang kita harus lakukan.

1. Tetap pada pelampung/perahu

Pastikan pelampung/perahu kita aman dan kita harus kuat mengapung di atas air, sehingga fisik harus kuat

2. Tolong menolong

Saat seperti ini, kita yang semua mengapung di atas air harus saling membantu kepada sesama karena saat itu semua kita di atas air, hanya ada yang besar pelampungnya atau perahunya dan ada pula yang kecil, ada yang punya banyak stok makanan dan ada pula yang sedikit bahkan ada yang tidak ada sama sekali. Sehingga di situlah kita perlu tolong menolong agar supaya di saat air surut nanti kita akan lebih banyak saudara.
Kalau kita pengusaha, saat itu saatnya perhatikan karyawan-karyawan kita, semua mitra kerja dan orang yang pernah berjasa dalan usaha kita, karena merekalah yang telah membuat perahu kita besar selama ini.

3. Hubungan vertikal

Saat ini tidak ada yang hebat, maka hanya hubungan vertikal yang harus di perkuat, selalu berdoa, berzikir dan beribadah kepada Allah untuk minta perlindungan agar supaya kita di selamatkan dan bisa bangkit kembali setelah air surut.

Sebagai seorang pengusaha karena semua usaha tutup maka saat seperti ini lakukanlah berbisnis dengan Allah, perbanyaklah membantu kepada hamba Allah yang perahunya atau pelampungnya kecil, dan kepada hamba Allah yang membutuhkan bantuan, supaya Allah mudahkan dan selamatkan serta Allah mudahkan bangkit dan merintis kembali usahanya setelah air surut
الله في عون العبد مادام العبد في عون اخي
Demikian dalam sebuah hadist qudsi di jelaskan bahwa Allah akan membantu hambanya selama hamba itu membantu saudaranya/sesama hamba.

Itulah yang saya istilahkan berbisnis dengan Allah, karena keuantungannya sudah jelas bahwa Allah akan pasti terlibat di saat seorang hamba membatu sesamanya hamba. Dan saat itu pasti banyak yang membutuhkan pertolongan.

Bumi di landa korona dan korona laksana tsunami, tidak semua yang di landa tsunami akan hanyut tenggelam. Dan saat air surut dan berenti badai tsunami, seorang pengusaha yang tadi banyak membantu dan berbisnis dengan Allah, insya Allah akan lebih mudah dan lebih cepat bangkit merintis dan melanjutkan usahanya kembali karena Allah pasti terlibat sesuai janjinya. Demikian halnya profesi-profesi lain. (**)

Komentar