oleh

Ada Bayi 3 Bulan hingga Lansia 65 Tahun Dirawat di Hotel Remcy

Editor : Ashar Abdullah-Headline, Kesehatan, Metro-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM — Dalam percepatan penanganan Covid-19, Tim Gugus Covid-19 Sulsel hadir dengan program Wisata Covid-19 dengan menempatkan pasien di hotel untuk dilakukan isolasi mandiri.

Hotel Remcy yang berada di jalan Boulevard Kota Makassar menjadi salah satu hotel yang dipilih sebagai rujukan program wisata Covid-19.

Astati Madamin, Koordinator Penanggung jawab Hotel Remcy, mengatakan, Hotel Remcy dikhususkan untuk peserta yang didapati berdasarkan kasus yang ditemukan dari hasil Rapid Test. Hingga kemarin, Astati mengaku 170 orang telah ditampung di hotel tersebut.

“Klusternya di sini kluster rapid massal. Rapid massal itu dilakukan di pasar-pasar, kemudian di pompa bensin, parkir, itu rapid massal. Kemudian terakhir kita ada rapid tingkat RT/RW,” kata Astati, Jumat (29/5/2020).

“Di sini kurang lebih 164, tambah lagi yang ODP, berarti totalnya 170” sambungnya.

Adapun peserta karantina yang diterima pihaknya, kata Astati, didominasi usia muda dan dewasa. Usia paling maksimal yang diterima pihaknya, yakni usia 65 tahun.

“Pernah kita terima yang 65 tahun, itu yang paling tua. Itu kisaran 25 sampai 60-an yang kita terima di sini. Itu rata-rata memang usia dewasa yang 30-an sampai 50-an.

Bahkan, Astati mengaku pernah menerima bayi berusia 3 bulan, yang reaktif Rapid Test Covid-19 dan anak-anak yang umumnya berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG).

Kita ada anak bayi 3 bulan, sampai anak 7 tahun ada. Dan itu memang rapidnya positif, tidak ada gejala, ini namanya OTG, yang terserang virus tapi tidak ada gejala seperti batuk dan sebagainya,” jelas Astati.

Sementara itu dirinya mengungkapkan, Hotel Remcy sudah dua pekan dijadikan tempat karantina dan rekreasi pasien dari hasil rapid test.

“Sudah 14 hari kita di sini, tanggal 15 Mei kita mulai kemarin. Pada saat itu memang kondisi di Almadera sudah crowded. Kemudian juga jumlah kamar di Swisbel sekarang sudah tidak memenuhi, karena di Harper juga. Kemudian juga klasternya agak berbeda di sini,” kata dia.

Sementara peserta karantina yang didapatkan berasal dari kluster rapid tes ini, diakui Astati kebanyakan berasal dari kontak erat dengan pasien positif Covid-19.

“Riwayatnya pernah kontak erat dengan penderita Covid, atau yang terkonfirmasi Covid, tanpa menggunakan masker, tanpa jaga jarak, dan malas cuci tangan. Jadi mungkin interaksinya dari situ virusnya,” tegasnya. (/fajar)

Komentar