oleh

Melalui Bimtek PPRG Tatap Muka dan Virtual, DP3A Parepare Tekankan Kesamaan Persepsi dan Sinergitas

Editor : Kalmasyari-Berita, Daerah, Parepare-

PAREPARE, BACAPESAN.COM – Menyamakan persepsi dan sinergitas, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Parepare menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Perencanaan, Penganggaran Responsif Gender (PPRG), Kamis (9/7/2020). 

Kegiatan bimtek itu menerapkan dua metode, yaitu metode virtual dan tatap muka dengan mengedepankan protokol kesehatan secara ketat, termasuk skrining (pengecekan suhu tubuh), mewajibkan penggunaan masker bagi peserta, cuci tangan hingga penerapan tempat duduk yang berjarak (physical distancing), digelar selama dua hari, 8 hingga 9 Juli 2020.

Kepala Bidang Kesetaraan Gender DP3A Parepare, Sriyanti Ambar mengungkapkan, tenaga focal point di lingkup Kota Parepare dilibatkan dalam bimtek itu lantaran masih banyak perbedaan persepsi tentang konsep gender.

Sriyanti menjelaskan, menyamakan persepsi pada bimtek perencanaan penganggaran berbasis responsif gender berpengaruh pada pengambilan kebijakan program pembangunan di lingkup SKPD, BUMN/BUMD, akademik, maupun di instansi vertikal. 

“Banyak yang memiliki mindset bahwa kegiatan responsif gender itu jika di dalam kegiatan memiliki bunyi atau kalimat tentang pengarustamaan gender (PUG). Padahal, ada beberapa kegiatan yang di dalamnya tidak sama sekali berbunyi PUG tetapi justru responsif gender. Nah ini yang ingin kita perbaiki mindset dengan menyamakan persepsi,” jelasnya

Sriyanti menambahkan, persoalan gender bukanlah persoalan jenis kelamin, tetapi jauh dari itu merupakan fungsi dan peran keduanya. 

“Focal Point sebagai peserta merupakan perpanjangan tangan di lembaga masing-masing sehingga perlu kami tekankan bahwa untuk mengetahui program apakah itu responsif gender atau tidaknya bukan dari kalimatnya, tetapi dengan menggunakan analisa gender,” ungkapnya.

Piranti analisis gender yang digunakan untuk menerapkan pengarustamaan gender lanjut Sriyanti, yakni Gender Analysis Pathway (GAP) atau Problem Based Approach (Proba) dan Gender Budget Statement (GBS). 

“Hasil analisis inilah yang digunakan untuk melakukan perencanaan dan penganggaran yang responsif gender,” tandas Sriyanti.
(***)

Komentar