oleh

Guru Besar UGM: Penemuan Obat Covid-19 Itu Tidak Mudah

Editor : Syarifah Fitriani-Kesehatan, Nusantara-

JAKARTA, BACAPESAN.COM – Belakangan ini semakin marak kabar terkait penemuan obat atau ramuan herbal antibodi yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, termasuk Covid-19. Padahal faktanya, penemuan obat Covid-19 bukanlah sesuatu yang mudah.

”Jika ada berita-berita yang mengklaim penemuan obat Covid-19, jangan cepat percaya. Sebab, penemuan obat Covid-19 tidak semudah itu. Carilah info-info berimbang pada lembaga-lembaga yang terpercaya seperti Badan POM,” kata Guru Besar Fakultas Farmasi UGM Zullies Ikawati seperti dilansir dari Antara di Jogjakarta.

Menurut dia, pernyataan penemuan antibodi Covid-19 yang berasal dari herbal merupakan istilah yang tidak tepat. Sebab, antibodi adalah suatu protein yang dibentuk sistem imun ketika menghadapi paparan antigen/patogen. Bisa berupa virus, bakteri, jamur, dan lainnya, termasuk terhadap virus penyebab Covid-19.

”Jadi kalau ada orang yang mengklaim menemukan atau menciptakan antibodi, tentu itu hal yang sangat tidak tepat,” kata Zullies Ikawati.

Dia menjelaskan, antibodi adalah senyawa yang dihasilkan sel-sel imun, yaitu oleh sel limfosit B yang bekerja melawan antigen. Dalam hal Covid-19 yang bisa disebut sebagai produk antibodi adalah plasma convalescent dari pasien Covid-19 yang sudah sembuh.

”Pasien Covid-19 yang sudah sembuh akan memiliki antibodi terhadap Covid-19. Nah ini yang kemudian diisolasi plasma darahnya lalu ditransfusikan kepada pasien sakit. Plasma darah ini mengandung antibodi Covid-19,” kata Zullies.

Dalam konteks lain, lanjut dia, suatu antibodi bisa diisolasi dari makhluk hidup dan mungkin dikemas menjadi satu sediaan, misalnya anti bisa ular (ABU). Serum anti bisa ular dibuat dengan cara memberikan bisa ular ke dalam tubuh hewan, seperti kuda atau domba.

Proses penemuan vaksin dan obat, kata Zullies, adalah proses yang berbeda. Obat bisa berasal dari senyawa kimia atau diisolasi dari herbal atau sumber lain dengan target tertentu di tubuh manusia. Namun sebelum diujicobakan ke manusia, calon obat harus menjalani dulu serangkaian uji pre-klinik pada hewan atau pada sel. Selain itu juga harus diuji keamanannya.

”Kalau vaksin bukanlah obat, melainkan suatu senyawa berupa antigen yang lemah yang bekerja memicu produksi antibodi pada tubuh orang yang divaksin,” terang Zullies Ikawati.

Untuk vaksin Covid-19, menurut dia, bisa dibuat antigen berupa keseluruhan virus yang dilemahkan atau bagian dari virus yang kemudian ditempelkan pada virus pembawa lain atau berupa RNA virus SARSCoV2. Orang yang menerima vaksin itu akan menghasilkan antibodi terhadap virus penyebab Covid-19, sehingga menjadi lebih kebal dan tidak mudah terinfeksi.

”Penelitian tentang vaksin di Indonesia sudah dimulai di Lembaga Eijkman bekerja sama dengan PT Bio Farma, tetapi prosesnya masih panjang untuk sampai ke pasar,” kata Zullies Ikawati. (jawapos)

Komentar