oleh

Puluhan Jemaah Tuntut Transparansi Pengelolaan Keuangan Masjid Shihhatul Iman

Editor : Syarifah Fitriani, Penulis : Armansyah-Metro-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Sejumlah jemaah, donatur dan warga Masjid Sihhatul Iman Komplek Kesehatan Kelurahan Banta-bantaeng menuntut transparansi pengelolaan dan penggunaan keuangan masjid.

Itu disampaikan salah seorang perwakilan jemaah masjid secara tertulis yang diserahkan langsung kepada Ketua Pengurus Masjid Shihhatul Iman, H Said Sulaiman.

Dalam surat yang ditandatangani sekitar 50 jemaah masjid dan warga sekitar itu, tertuang adanya dugaan kesalahan penggunaan anggaran dana masjid, yang notabene bersumber dari sumbangan para donatur dan jemaah masjid.

Termasuk penggunaan dana masjid untuk kepentingan Yayasan Shihhatul Iman. Sejumlah donatur menilai beberapa item penggunaan atau pengeluaran dana memerlukan penjelasan yang mendetail.

Ketua Ikatan Persaudaraan Jemaah Masjid Shihhatul Iman, Abd Wahab menyampaikan selama ini tidak ada transparansi terkait pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan kepada kepada donatur dan jemaah.

Padahal, transparansi pengurus sangat penting untuk pengembangan masjid yang telah dibangun menggunakan dana ummat di atas tanah wakaf Kementerian Kesehatan untuk kepentingan sosial keagamaan warga sekitar.

“Intinya, kita minta pertanggungjawaban penggunaan dan pengelolaan dana masjid. Pengelolaan keuangan masjid harusnya dipertanggungjawabkan kepada jemaah masjid bukan kepada yayasan. Sebab keuangan masjid berasal dari sumbangan jemaah, donatur, dan masyarakat,” terangnya.

Dijelaskan Abd Wahab, selama ini pengelolaan keuangan masjid dipertanggungjawabkan ke Yayasan Shihhatul Iman. Padahal, aturan kebijakan baik Pemkot dan Dewan Masjid Indonesia bahwa pengelolaan keuangan masjid dipertanggungjawabkan ke jemaah masjid.

Hal ini sangat ganjil. Apalagi, menurut Abd Wahab, keberadaan pengurus Masjid Shihhatul Iman juga dipertanyakan, karena tidak sesuai atauran yang berlaku.

“Yayasan Shihhatul Iman mengatur pengelolaan masjid, seperti pemilihan ketua pengurus masjid. Termasuk berlaku arogan, karena mengundang orang-orang tertentu saja saat pemilihan ketua pengurus masjid, sedangkan lebih banyak jemaah tetap yang tidak dilibatkan. Ini jelas ada maksud-maksud tertentu. Padahal, ada aturan sesuai kebijakan Pemkot Makassar dan DMI, mulai dari pembentukan pengurus hingga pengelolaan keuangan masjid,” terangnya.

“Padahal, Yayasan Shihhatul Iman sendiri dulu awalnya dibentuk secara pribadi atau perorangan hanya untuk kepentingan renovasi masjid. Jadi setelah renovasi, harusnya selesai juga peran yayasan ini. Sebab tidak ada lagi hubungannya yayasan ini dengan masjid dan tidak ada kontribusi kepentingan masjid kepada yayasan ini. Bukannya seperti sekarang ini, melakukan intervensi terhadap pengelolaan Masjid Shihhatul Iman,” tambahnya.

Abd Wahab mengatakan, akibat arogansi Yayasan Shihhatul Iman warga mengaku resah, karena hal ini berdampak kepada ketenangan beribadah jemaah.

“Carut marutnya pengelolaan pengurus masjid akibat intervensi Yayasan Shihhatul Iman telah berpengaruh kepada psikologi jemaah,” katanya.

Komentar