oleh

Kerinduan Seniman di Tengah Pandemi

Editor : Syarifah Fitriani, Penulis : Hikmah-Musik-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Layaknya manusia butuh udara untuk bernafas, pemusik pun butuh panggung untuk menyalurkan bakat bermusiknya. Hal ini yang kemudian dirasakan para pemusik di Sulawesi Selatan, mereka harus kehilangan panggung karena pandemi.

Terhitung genap tujuh bulan pandemi menghantam Sulawesi Selatan, Jangankan panggung, mencari nafkah untuk keluarga sudah cukup susah bagi pemusik. Keputusan pemerintah untuk menutup berbagai arena pertunjukan musik seperti tempat hiburan malam menjadi cambuk keras bagi mereka.

Bagi pemusik, mencari nafkah menggunakan bakat adalah ilham dan sebuah keistimewaan, sedang bakat istimewa ini tidak lagi dapat digunakan selama masa pandemi.

Agus Leader A+ misalnya, akibat pandemi dirinya terpaksa kehilangan mata pencaharian sedang dirinya harus menghidupi keluarga.

“Jangankan manggung, menghidupi keluarga saja susah,” katanya.

Agus mengaku, sebelumnya pernah diupayakan bantuan dari pemerintah namun bagi agus hal tersebut tidak pantas mengisi piring nasinya dan keluarga.

“Pandemi sudah berlangsung kurang lebih tujuh bulan, sedang bantuan hanya datang sekali itupun pas PBB kemarin,” lanjut Agus.

Tak berbeda jauh dengan Agus, Bagus Prasodjo General Manager Barkode yang mewadahi para musisi juga mengaku terseok. Dirinya harus pulang ke tanah Jawa tempat kelahirannya dikarenakan sepinya job.

“Ini kondisi dimana tidak ada orang yang mau menutup usahanya. Namun harus karena anjuran pemerintah. Kebijakan pemerintah yang membuat pendapatan kami turun dan terkesan menekan pengusaha,” pungkas Bagus.

Dimasa pandemi yang sampai saat ini tak terlihat akhirnya, para pemusik hanya berharap agar bisa kembali bekerja.

“Untuk teman teman dibelakang meja sana, yang mengurus pemerintahan, kami tidak mengharapkan bantuan, kami hanya ingin kembali bekerja,” harapnya.

Komentar