oleh

Marak Penelpon Cabul, Psikolog: Pelaku Butuh Terapi, Bukan Tindakan Hukum

Editor : Syarifah Fitriani, Penulis : Hikmah-Headline, Metro-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM- Perbuatan tidak senonoh atau perbuatan yang mengandung unsur fornografi sering dijumpai entah itu secara langsung ataupun melalui media komunikasi.

Baru baru ini diberitakan, beberapa mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) mendapatkan panggilan video oleh orang tak dikenal (OTK).

Menurut kesaksian korban EL, telpon tersebut berasal dari nomor yang tak di kenal. Sempat tak digubris panggilan video terus berdatangan beberapa kali dan saat panggilan video tersebut diterima, pihak penelpon mengarahkan kamera ke alat kelaminnya.

Menerima panggilan video tersebut, EL kemudian memilih mengakhiri panggilan video dan menginformasikan kepada rekannya agar tak menanggapi panggilan yang sama.

“Saya bilang jangan diangkat karena dia kasih liat itunya (alat vital). Tapi ada tiga orang itu yang korban, satu kelasku. Dua video call begitu, kayak saya. Satu dikirimi video, pamer alat kelaminnya. Enam orang semua teman kelasku tiga orang tidak sampai diangkat,” beber EL.

Psikolog UNM, Harlina Hamid menilai, maraknya penelpon sex seperti yang dialami EL dilakukan oleh orang yang mengalami gangguan seksual.

“Dalam psikopatologi ada gangguan exhibisionisme namanya, yang merasa senang dan terangsang jika menunjukkan alat vitalnya pada orang lain” Pungkas Harlina.

Lebih jauh kata Herlina, jika mendapati situasi semacam ini, hendaknya korban tidak menanggapi berlebihan. Hal tersebut kata Herlina karena reaksi apapun bisa memicu rangsangan bagi pelaku.

“Tidak ditanggapi berlebihan, entah tanggapan suka atau tidak suka, karena biasanya dua duanya nya membuat orang makin terangsang,” ungkapnya.

Selanjutnya Herlina menyarankan bagi para korban agar tidak memberi respon terhadap panggilan semacam ini.

“Kalau sudah tau telpon itu, langsung di blokir saja. Tapi uuntuk efek jera, bisa juga dilaporkan ke pihak yang berwajib agar tidak melakukan lagi,” ujarnya.

Terakhir, Herlina mengatakan bahwa penyakit mental seperti itu membutuhkan bantuan psikiater.

“Sebenarnya orang seperti ini membutuhkan terapi daripada tindakan hukum. Bisa bentuknya psikoanalis, Cognitive behavior therapy ( CBT), bisa dengan Play Therapy,” tutupnya.

Komentar