oleh

Pembebasan Lahan KA Lambat, Jumardi: Bisa Masuk Rekor MURI

Editor : Syarifah Fitriani, Penulis : Hikmah-Headline, Metro-

PANGKEP, BACAPESAN.COM- Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jawa Bagian Timur, Jumardi menyoroti lambatnya pembebasan lahan untuk proyek kereta api Trans Sulawesi di Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Maros.

Menurut Jumardi, pembebasan lahan di pangkep baru berjalan sekitar 10 persen, sedangkan di Kabupaten Maros baru sekitar 27 persen sejak dicanangkannya proyek kereta api pada tahun 2015 lalu.

Jumlah ini berbanding terbalik jika melihat progres di Kabupaten Barru yang hampir rampung dan tidak ada lagi pengerjaan.

“Saya sangat kecewa terhadap penolakan ini. Di Pangkep, sekitar 90 persen penduduk menolak pembebasan lahan, sedangkan di Maros penolakan terjadi sekitar 73 persen. Kalau bisa saya mau memasukkan di rekor MURI, Hanya di Sulawesi Selatan ini yang hampir keseluruhan penduduk menolak ganti rugi” Kata Jumardi Kamis (01/10/2020)

Lebih jauh Jumardi  mengajak pemerintah daerah untuk terus mendukung program ini dan mengajak pemuka agama ataupun tokoh tokoh masyarakat untuk memberi pengertian kepada masyarakat.

“Saya pahami ini proses pertama pengadaan  tanah sehingga masih bayak masyarakat yang belum paham. Olehnya saya berharap kepala daerah ikut memberikan sosialisasi ke masyarakat dengan menggalang tokoh tokoh masyarakat. Jangan anggap ini proyek Pusat, Ini uang rakyat sebesar 6 Milyar yang digelontorkan dalam proyek ini,” lanjutnya.

Terakhir Jumardi berharap masyarakat dapat mengerti bahwa pembebasan lahan untuk kereta api ini juga bentuk wakaf.

“Jika membangun masjid saja kita bisa, kenapa tidak wakaf untuk lahan kereta api, sudah wakaf, dibayar pula. Harusnya kita bersyukur proyek kereta api ini dilaksanakan di Sulsel, banyak daerah lain yang meminta tetapi tidak diberikan. Dengan adanya kereta api masyarakat desa akan lebih mudah menyalurkan hasil buminya sehingga ekonomi masyarakat bisa berkembang,” tutupnya.

Komentar