oleh

Asa Sopir Tangki Pertamina, Lalui ‘Jalur Maut’ Demi Salurkan BBM Hingga Pelosok

Editor : Syarifah Fitriani, Penulis : Hikmah-Ekobis-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM- Ketersediaan  bahan bakar minyak (BBM) hingga ke pelosok negeri menjadi misi yang di emban Pertamina.

Meski dalam situasi pandemi, konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) masyarakat tak pernah berhenti. Olehnya, penyaluran BBM terus dilakukan terutama ke pelosok sehingga BBM tetap terdistribusi merata.

Bagi kebanyakan orang, penyaluran Bahan Bakar Minyak hanya sebatas bahan bakar sampai dengan selamat ke tujuan.  Tidak banyak yang tahu, penyaluran bahan bakar minyak hingga ke pelosok membutuhkan waktu dan usaha keras orang-orang yang berada di belakangnya.

Faisal (33) misalnya, tahu betul resiko apa yang dihadapi saat penyaluran bahan bakar minyak ke pelosok. Profesi yang di gelutinya sebagai awak sopir truk tangki Pertamina selama delapan tahun, menguji nyali sekaligus tanggung jawabnya.

Faisal sebagai salah satu dari puluhan awak tangki Pertamina yang mengemban tugas untuk memasok bahan bakar dari Makassar ke Sinjai harus berkendara 4 hingga 5 jam setiap harinya. Hal tersebut dikarenakan jarak yang ditempuh untuk sampai ke Sinjai sekitar 133 km.

Berbeda dengan mobil dan truk kebanyakan, truk tangki Pertamina hanya bisa di pacu dengan kecepatan 45 km perjam. Ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan buruk karena truk bermuatan berat.

Tak berhenti pada bobot truk yang diluar standar kendaraan biasanya, rute yang ditempuh Faisal sehari harinya bukan rute yang mudah. Masyarakat Sulsel pasti familiar dengan Cambaya atau yang sering dijuluki  ‘jalur maut’.

Jangankan mengendarai truk bermuatan ribuan liter, memakai kendaraan biasa saja bisa bikin bulu kudu bergidik. Tak hanya terkenal sempit dan berkelok, jalur ini benar benar menguji ketangkasan dalam berkendara. Sedikit saja kelalaian pengemudi seperti misalnya mengantuk, akan berakibat fatal.

Beruntung, pengalaman telah menempa Faisal. Selama delapan tahun, ia belajar banyak bagaimana berkendara dengan aman.

“Sebelum menggeluti profesi ini, kami telah diajarkan bagaimana berkendaraan dengan aman. Selain itu kami juga dibekali pengetahuan tentang bagaimana menanggulangi apabila terjadi kerusakan truk,” kata Faizal.

Bagi Faisal semuanya telah menjadi biasa, pria yang berdomisili di Kabupaten Bulukumba ini merasa telah khatam betul rute yang harus dilaluinya mengantarkan kebutuhan masyarakat di pelosok.

Faisal menceritakan, hal yang paling berkesan selama ia menjadi awak truk tangki Pertamina ketika ia dan satu rekannya harus berada di truk dua puluh empat jam karena macet berkepanjangan. Rasa lapar dan dahaga  terpaksa harus ditahannya karena kehabisan bekal diperjalanan, beruntung warga berbaik hati mengantarkan makan dan memberikan izin menggunakannya kamar mandi mereka untuk buang air besar dan buang air kecil.

“Waktu itu ada mobil rusak, sedangkan jalanan di Cambaya sempit dan terjal. Kami tidak bisa memarkirkan mobil atau putar balik karena di depan belakang ada kendaraan. Untung warga berbaik hati menolong kami,” kenangnya.

Kini kenangan kenangan seperti itu hanya bisa disimpan Faisal serta dijadikan pelajaran karena kendala yang lebih besar menantinya. Covid 19 menjadi kekhawatiran terbesar Faisal saat ini, covid 19 menumbangkan ribuan orang bukan hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

Virus yang mengglobal ini menumbangkan orang tua maupun muda, sehat ataupun sakit serta kaya ataupun miskin.

Hal ini yang kemudian membuat Faisal khawatir, di samping karena wabah ini mudah menular, juga karena istri Faisal saat ini dalam keadaan hamil tua.

“Saat ini covid 19 sangat menghawatirkan terutama kerena istri saya sedang hamil anak ke empat” Katanya

Guna menghindari hal tersebut, Faisal sebisa mungkin mengurangi kontak dengan sekitar, mematuhi protokol kesehatan dan tak henti hentinya menggunakan masker meski saat berkendara. Dirinya khawatir, bisa saja membawa penyakit pulang ke rumah.

“Apalagi di pelosok, masyarakat masih kurang sadar akan bahaya covid 19. Disana masih jarang yang memakai masker” Pungkasnya.

Faisal berharap, kedepannya masyarakat bisa sadar bahwa penerapan protokol kesehatan amatlah penting, terutama untuk orang yang bepergian jauh dan sedang mencari nafkah seperti. Ia hanya memiliki tujuan yakni untuk membantu masyarakat agar mobilitas mereka tak terputus.

“Semoga semua sadar soal covid ini, karena bagaimanapun keluarga kita di rumah menanti” Harap Faisal.