oleh

Indonesia Resesi, Bagaimana Masyarakat Harus Bersikap?

Editor : Syarifah Fitriani, Penulis : Hikmah-Keuangan-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM- Resesi yang dialami sejak minusnya pertumbuhan ekonomi di triwulan ke II hingga triwulan ke III mengundang berbagai reaksi dari masyarakat.

Meski pertumbuhan ekonomi tak serendah di triwulan ke II yakni minus 5,32 persen, tetap saja minus 3,49 persen di triwulan ke IlI secara tahunan mengantar Indonesia dalam status resesi.

Menurut Pengamat Ekonomi Unismuh, Abdul Muttalib Hamid, penyumbang utama minusnya ekonomi yang menyebabkan resesi di Indonesia dan beberapa negara di dunia pastilah pandemi Covid-19.

Di Indonesia sendiri kata Abdul, pada enam bulan terakhir fundamental ekonomi relatif tidak bertumbuh dengan baik dengan kisaran 4,9 hingga 5,1 persen dan penyebabnya adalah covid.19 ditambah menurunnya konsumsi masyarakat karena kekuatiran akan situasi buruk saat resesi.

“Pada kondosi pandemi ini, masyarakat cenderung menunda pembelian atau menunggu harga yang lebih rendah. Hal itu menyebabkan spiral yang terus menurun sehingga aktivitas ekonomi melambat.
Dampaknya, berbagai bisnis mengalami defisit hingga bangkrut karena masyarakat mengalami penurunan konsumsi. Akhirnya, angka pengangguran semakin meningkat dan tersebar luas. Bagi masyarakat yang memiliki pekerjaan, dalam kondisi resesi mereka sulit mendapatkan kenaikan gaji,” paparnya Minggu (08/11/2020)

Lantas bagaimana masyarakat harus bersikap ditengah tak menentunya situasi perekonomian saat ini. Di satu sisi konsumsi masyarakat seperti misalnya konsumsi rumah tangga harus ditingkatkan, namun disisi lain kewaspadaan terhadap krisis akibat resesi masih saja membayangi. Masyarakat masih ingat betul dampak dari krisis moneter di tahun 1998.

Menurut Abdul, kondisi resesi memang membuat dilema. Hal ini menjadi masalah fatal dalam ekonomi (publik) karena salah satu yang paling berpengaruh adalah inflasi. Maka pada akhirnya terjadi pertarungan antara kepentingan individu dengan makro karena negara mengalami resesi.

“Kita harus mulai berbenah untuk bersiap menghadapi apapun yang akan terjadi di masa mendatang. pada saat yang sama individu harus survive, nah kalau sudah begini individu harus beririt dan berusaha terus menambah income, walupun itu agak sulit.” ujarnya.

Apalagi kata Muttalib, jika perkiraan resesi hingga akhir tahun benar, karena sebelumnya Menkeu Sri Mulyani menyebut ekonomi sepanjang 2020 diprediksi minus 0,6% bahkan bisa hingga kontraksi 1,7 persen maka masyarakat harus bersiap.

“Pada saat seperti ini untuk manghadapi resesi ekonomi, masyarakat jangan boros dan harus mempersiapkan kondisi terburuk untuk mencukupi keuangan. Tetap harus berjaga-jaga mempersiapkan kondisi terburuk yaitu apabila resesi ini berkepanjangan. Perlu stamina yang kuat termasuk juga tabungan yang cukup, jangan boros. Selain mempersiapkan tabungan yang banyak, masyarakat juga disarankan agar menjaga kesehatan sehingga tak terpapar covid sehingga yang dapat menyebabkan resesi berkepanjangan”bebernya.

Sementara itu, Edwin Permadi kepala divisi implementasi kekda dalam wawancaranya bersama bacapesan.com Sabtu (08/11/2020) mengaku optimis keadaan ekonomi akan semakin membaik di triwulan selanjutnya.

Menurut Edwin, meskipun resesi membuat dilema karena di satu sisi harus meningkatkan belanja masyarakat untuk pemilihan ekonomi, sedang disisi lain masyarakat harus berbelanja secara bijak, namun menurutnya tidak ada yang perlu di takutkan karena perekonomian tetap jalan.

“Masyarakat harus bersikap, memang dilema namun melihat masyarakat Indonesia kadang kadang saya merasa kagum dengan daya sosial yang tinggi yang menghadirkan banyak aksi positif untuk membantu yang kesusahan, ” katanya.

Edwin meneruskan, kondisi akan seimbang dengan sendirinya terutama karena banyaknya gerakan positif untuk saling membantu.

“Kita tetap yakinlah bagaimana kita saling membantu. Kalau itu kita jaga hal tersebut, maka kondisi kedepan akan baik. Semoga di triwulan ke lV ini kita tetap saling bersinergi dan perekonomian kembali pulih” harapnya