oleh

BPS Ungkap Inflasi Sulsel Capai 0,51 Persen Bulan Lalu

Editor : Syarifah Fitriani, Penulis : Ratih-Keuangan-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) kembali merilis pada November 2020, inflasi di Sulsel mencapai 0,51 persen.

Berdasarkan hasil rilis pada November 2020, terjadi inflasi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 0,15 persen dari 104,70 menjadi 104,86. Data inflasi tersebut, dari gabungan 5 kota di Sulsel, di antaranya Makassar, Watampone, Bulukumba, Palopo dan Parepare.

Diketahui, tingkat inflasi tahun kalender sebesar 1,54 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (November 2020 terhadap November 2019) sebesar 1,62 persen.

Kepala BPS Sulsel, Yos Rusdiansyah mengatakan inflasi terjadi karena jumlah barang tetap, sementara uang yang beredar terus meningkat hingga dua kali lipat. Sehingga, menyebabkan harga barang naik 100 persen.

“Inflasi terjadi dikarenakan jumlah barang tetap namun uang yang beredar meningkat hingga dua kali lipat. Hal itu menyebabkan harga barang naik hingga 100 persen. Bulukumba, Watampone dan Makassar itu inflasi dan dua Kota Parepare dan Palopo mengalami deflasi,” ujar Yos, Kamis (3/12/2020).

Yos mengatakan IHK dari 5 kota, 3 kota diantaranya, mengalami inflasi dan dua kota mengalami deflasi. Paslanya, inflasi tertinggi terjadi di Kota Makassar sebesar 0,17 persen dan deflasi tertinggi terjadi di Kota Parepare sebesar 0,02 persen.

Lebih lanjut, Yos menyebut inflasi terjadi lantaran kenaikan sebagian indeks kelompok pengeluaran, yakni kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,31 persen. Sekentara, untuk kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,06 persen, dan Kelompok kesehatan sebesar 0,26 persen.

Sementara, untuk kelompok pengeluaran, mengalami deflasi, yaitu kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar lainnya sebesar 0,06 persen dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,13 persen.

“Kelompok transportasi sebesar 0,60 persen. Kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,04 persen dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,03 persen,” ungkapnya.