oleh

Sederet Tradisi Natal yang “Hilang” Selama Pandemi Covid-19

Editor : Syarifah Fitriani, Penulis : Ratih-Metro-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM — Di momentum Natal harusnya menjadi momen paling bahagia bagi Umat Kristiani di seluruh dunia. Sayangnya, di tahun 2020, kemeriahan sukacita Natal seperti kehilangan nyawanya. Pandemi Covid-19 yang masih menyelimuti dunia, menjadikan tradisi Natal tahun ini terpaksa ditiadakan.

Hal tersebut, dikatakan Pendeta Gereja Toraja Jemaat Bawakareng, Lili Danga. Ia mengatakan terdapat beberapa kebiasaan natal yang hilang saat natal, seperti kesibukan di gereja dalam mempersiapkan perayaan natal.

“tidak ada lagi pembentukan pantia natal, semua persiapan natal terpaksa dikerjakan langsung oleh majelis gereja, itupun tidak semua, kita batasi. Jadi cuma kami ini saja, biasanya pemuda dan jemaat itu ramai berkumpul di gereja,” ujar Lili, Sabtu (26/12/2020).

Lili mengatakan kebiasaan lain yang hilang di natal tahun ini, yakni kunjungan majelis gereja kepada seluruh jemaat usai melakukan ibadah natal ditiadakan. Kunjungan ini rutin dilakukan sebagai silaturahmi pengurus gereja kepada keluarga-keluarga jemaat di hari raya.

“Sekarang juga kunjungan majelis ke rumah jemaat itu sudah tidak ada. Biasanya kami bagi menjadi 14 kelompok pelayan untuk melayani ke rumah-rumah jemaat untuk berdoa bersama, tapi karena covid ini, jadi terpaksa tidak dilakukan,” tuturnya.

Melihat momentum natal tahun ini, Lili mengatakan momen natal yang identik dengan rangkaian pemberian kado natal, tak bisa dilaksanakan seperti perayaan sebelumnya. Anak-anak sekolah minggu tak dapat menikmati kedatangan tokoh ikonik natal, santa clause untuk memberikan hadiah.

“Pembagian kado itu sudah tidak ada. Karena natalnya sekarang hanya dirangkaikan sekaligus satu kali, hanya malam natal dan hari natal. Kalau biasanyakan ada natal persekutuan anak, pemuda dan lain lain, jadi meriah dan ada acara tukar kado,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan kehadiran pandemi covid-19 ini, memang memangkas banyak hal. Tak hanya kemeriahan hari raya umat beragama, segala aktivitas keseharianpun  harus dijalankan dengan penuh keterbatasan dan sederhana. Karenanya, ditengah keterbatasan itu, Lili berpesan kepada seluruh jemaat agar tetap bersyukur meski dalam keterpurukan.

“Semuanya serba terbatas ya, tapi kita tetap harus syukuri. Penyertaan Tuhan yang lahir bagi kita tidak pernah meninggalkan kita. diharapkan kepada seluruh jemaat tetap bisa merasakan sukacita dan bahagia sekalipun di masa sulit. Sekalipun kita dibatasi secara fisik, tapi hubungan sosial itu tetap bisa berjalan, lewat telepon atau media lainnya,” pungkasnya.