oleh

Film Lokal Sulsel, de Toeng Hadir di Bioskop

Armansyah and Hikmah-Berita, Film, Hiburan, Komunitas-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM- Sulawesi Selatan kembali kehadiran film lokal di tahun ini dan telah tayang di bioskop. Film tersebut berjudul de Toeng, Misteri Ayunan Nenek.

Di garap Turatea Production dengan Sutradara Bayu Pamungkas, film ini dikemas dengan genre horor, komedi serta disaji apik dengan ragam adat khas turatea yang pasti akan membuka wawasan terkait adat-adat Kabupaten Jeneponto.

Film ini menceritakan mitos tentang penghuni rumah tua di atas bukit Toeng di Bangkala, Jeneponto Sulawesi selatan. Masyarakat setempat masih mempercayai pada malam-malam tertentu masih mendengar suara ayunan nenek sambil meroyong.

“Royong dalam bahasa Indonesia adalah nyanyian untuk menidurkan anak. Dari sinilah mitos ini berkembang di kalangan masyarakat Jeneponto sehingga masyarakat menjadikan bukit Toeng salah satu tempat yang angker, masyarakat setempat selepas magrib tidak ada yg berani melintas,” jelas Sutradara Film Bayu Pamungkas, Senin (15/2).

Lanjut dia, film yang mengambil latar shooting 90 persen di bukit Toeng Jeneponto ini sebelumnya sudah menyusun cerita sejak beberapa tahun lalu dan berhasil di rampungkan tahun ini.

Meski tahun 2021 dianggap sulit, Bayu Pamungkas berharap film karya sineas Sulsel ini bisa menjadi motifasi di dunia perfilman khususnya film lokal. Bahkan film ini menjadi film pertama karya anak daerah yang tayang di tahun 2021.

“Inti dari film ini yaitu ingin mengajak masyarakat, utamanya anak muda agar bisa menghargai adat tradisi dan budaya terdahulu. Ada cerita yang akan diperlihatkan di film ini,” tuturnya.

Lebih jauh, Bayu Pamungkas menceritakan sebelum memulai proses shooting, de Toeng ini, kru harus melakukan beberapa ritual seperti barasanji dan makan-makan bersama.
“Ini sebagai izin kami dan menghargai tempat serta cerita yang kami angkat,” ucapnya.

Film ini ingin lebih menunjukkan bahwa boleh kenal budaya luar, tapi jangan lupa dengan budaya sendiri. Sebab bangsa Indonesia kaya akan nilai-nilai budaya, maka film ini salah satunya mengangkat cerita kearifan lokal daerah Jeneponto.

“Insha Allah kami akan terus mengangkat cerita dengan latar budaya daerah dalam film-film saya yang lain,” tutupnya.