oleh

Angka Kemiskinan di Sulsel Capai 800 Ribu Orang

Editor : Armansyah, Penulis : Hikmah-Berita, Headline, Metro-
MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Jumlah masyarakat miskin di Sulawesi Selatan (Sulsel) mencapai 800.240 orang pada September 2020. Jumlah itu naik sekitar 0,27 persen jika dibanding Maret 2020.
Kepala Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan (BPS Sulsel), Yos Rusdiansyah menyebut penduduk miskin September 2020 mencapai 8,99 persen. Angka ini naik hingga 0,43 persen jika dibanding Septembet 2019 yang hanya 8,56 persen.

Angka ini cukup koheren dengan kondisi perekonomian di 2020 yang masih mengalami kontraksi -1,10 pesen di triwulan ke tiga,” kata Yos Rusdiansyah dalam live streaming di Chanel resmi BPS Sulsel, Senin (15/2).

Dia menyebut salah satu pemicu terjadi peningkatan angka kemiskinan dikarena jumlah penganguran yang meningkat di 2020.

Pada Agustus 2020 tingkat pengangguran di angka 6,31 persen, sedangkan di periode yang sama di tahun 2019, tingkat pengangguran hanya 4,62 persen. Begitu pula tingkat setengah pengangguran yang naik menjadi 9,86 persen di 2020, sedangkan di 2019 hanya 7,34 persen.

“Inilah yang mempengaruhi kemiskinan,” ujar dia.

Sama dengan  2019 lalu, penyumbang kemiskinan  terbesar masih pada masyarakat pedesaan dengan jumlah penduduk miskin hingga 605,16 ribu jiwa. Sedangkan untuk di kota jumlah penduduk miskin hanya 195,08 ribu jiwa.

“Indeks kedalaman kemiskinan juga mengalami peningkatan dari angka 1,258 persen menjadi 1,650 persen,” papar dia.

Namun, meskipun angka kemiskinan meningkat gini ratio atau kesenjangan sosial mengalami penurunan 0,007 persen. Selain itu, konsumsi rumah tangga juga ikut menyumbang pertumbuhan kemiskinan.

Di triwulan ke tiga, konsumsi rumah tangga harus terkontraksi hingga -1,55 persen. Angka ini sangat menurun di banding tahun 2019 diperiode yang sama dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga hingga 6,54 persen.

Konsumsi rumah tangga masih terkontraksi, padahal Maret hingga September 2020 mengalami inflasi cukup rendah 0,40. Angka ini cukup kecil dari tahun sebelumnya.

“Selain itu ada pola menarik, kontribusi makanan di desa dan kota seperti beras trennya mengalami penurunan distribusi. Sedangkan, rokok dan ikan bandeng mengalami kenaikan. Sementara telur ayam ras, mie instan, terigu, gula, cenderung stabil,” tambah dia.