oleh

Gerak Cepat Pinang Kada Terpilih

Editor : Armansyah-Berita, Headline, Politik-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Sejumlah kepala daerah (Kada) terpilih hasil Pilkada serentak 2020 masih berstatus non parpol.

Hal ini membuat Parpol harus gerak cepat meminang sang kepala daerah.
Diantaranya, Adnan Purichta Ichsan (Gowa), Zadrak Tombeg (Tana Toraja), Suaib Mansur(Luwu Utara), Budiman (Luwu Timur), A Muchtar Ali Yusuf (Bulukumba), dan Yohanis Bassang di Toraja Utara.

Sekertaris DPD Gerindra Sulsel, Darmawangsyah Muin mengakui ada beberapa figur kepala daerah terpilih menjadi incaran partai bentukan Prabowo Subianto tersebut. Hanya saja, legislator DPRD Sulsel itu enggan membeberkan nama-nama kepala daerah non parpol yang menjadi incarannya.

“Memang ada beberapa kepala daerah terpilih kami ajak bergabung, tapi tidak bisa saya sebutkan,” katanya.

Ia juga mengklaim sudah ada sekitar dua kepala daerah terpilih yang memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) Gerindra. “Saat ini memang ada 1 atau 2 sudah ber-KTA Gerindra,” tegasnya.

Sekertaris DPD I Golkar Sulsel, Marzuki Wadeng menyebutkan, meski banyak kader Golkar status kepala daerah, namun peluang untuk membidik figur kepala daerah terpilih non parpol tetap ada.

“Memang ada seperti itu. Kami ingin mengajak kepala daerah terpilih gabung,” ucapnya.

Oleh sebab itu, melalui ajang Musda DPD II pada 24 daerah, peluang untuk mengajak figur lain bergabung sangat besar. “Ada namanya diskresi, kalau kada terpilih berminat kami ajak gabung,” jelasnya.

Wakil Sekretaris Bidang Komunikasi Publik DPD I Golkar Sulsel, Zulham Arief menambahkan, salah satu kada terpilih yang tengah menjadi bidikan yakni Budiman Hakim di Luwu Timur.

“Pak Bupati (Budiman) harus Golkar, walau dikabarkan masuk PDIP tapi secara tanggung jawab moril beliau harus melihat jasa-jasa pak Husler. Dia besar melalui birokrat hingga dipilih jadi calon wakil dan nantinya akan menjadi bupati,” singkatnya.

Ketua Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Sulsel, Suzanna berharap Bupati dan Wakil Bupati Tana Toraja Theofilus Allorerung-Zadrak Tombeg bisa bergabung.

“Jadi kalau saya kandidat tidak lupa partai pengusung, karena kita berjuang sama-sama untuk memenangkan Pilkada. Alangkah baiknya pak Theo dan Zadrak jadi kader partai pengusung bukan mencari partai lain yang bukan mengusungnya,” singkat Suzanna.

Wakil Bupati terpilih Luwu Utara, Suaib Mansyur mengaku belum berpikir untuk bergabung dengan salah satu Parpol. “Kemarin sempat ada tawaran dari Golkar untuk maju Musda. Tapi sampai saat ini saya belum bisa jawab iya atau tidak,” katanya.

Mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Lutra ini akan lebih fokus untuk menjalankan pemerintahan bersama dengan Indah Putri Indriani lima tahun kedepan. “Saya lebih fokus dulu untuk membantu bupati,” tegasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan, Bupati Toraja Utara terpilih, Yohanis Bassang (Ombas). “Terlalu dini kalau kita bicara (bergabung dengan parpol), biarlah mengalir dulu seperti air. Apalagi partai memiliki mekanisme tersendiri yang harus dijalankan,” ucapnya.

Terpisah, Pengamat Politik Unibos Makassar, Arief Wicaksono menilai, keinginan parol menggaet kepala daerah terpilih sudah sering terjadi setiap selesai hajatan Pilkada atau pemilu. “Iya, itu fenomena catch-all party, sudah lazim dilakukan di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, semua partai akan berperilaku merapat kepada pemenang Pilkada dengan “membajak” mereka sebagai kader atau bahkan langsung menjadikan mereka ketua partai.

“Kalau partai tersebut merupakan partai pengusung/pendukung pemenang Pilkada, itu sudah sebuah konsekuensi,” tuturnya.

Tapi jika partai tersebut tidak mendukung atau bahkan berlawanan dengan pemenang Pilkada, maka akan ada efek backfire kedalam internal partai tersebut.

“Baik berupa dinamika ketidakpuasan kader yang sudah lama berjuang di partai itu,” sebut Dekan Fisip Unibos itu.

Sedangkan, Konsultan Nurani Strategic, Nurmal Idrus mengatakan, kepala daerah punya keuntungan ganda jika digaet sebagai pimpinan parpol di daerahnya.

“Tentu saja, karena dia memiliki banyak keuntungan karena kekuasaan yang dipegangnya,” katanya.

Maka, adalah wajar jika kemudian mereka jadi buruan parpol. Dengan kepala daerah sebagai ketua parpol di daerah itu. “Maka itu menjadi jaminan kesuksesan parpol di daerah itu,” jelasnya.