oleh

Tanpa NA, Pilgub Sulsel Lebih Dinamis

Armansyah and Yadi-Berita, Pilkada, Politik-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel mendatang dipastikan akan berlangsung dinamis. Jalan petahana Nurdin Abdullah (NA) untuk kembali maju bertarung terhambat setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hal ini membuka peluang bagi figur-figur lain ikut berkompetisi di ajang lima tahunan itu. Beberapa kandidat potensial kontan mewacana. Mulai elite parpol dan kepala daerah (Kada) peraih suara spektakuker.

Deretan punggawa parpol yang mewacana diantaranya Rusdi Masse (RMS) Ketua NasDem Sulsel, Taufan Pawe (TP) Ketua Golkar serta Andi Iwan Darmawan Aras (AIA) sebagai Ketua Gerindra Sulsel.

Adapun kepala daerah seperti Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan, Wali Kota Makassar Moh Ramdhan “Danny” Pomanto, Bupati Soppeng Andi Kaswadi Razak, serta Bupati Luwu Utara (Lutra) Indah Putri Indriani.

Nama lain yang patut diperhitungkan yakni, Ketua DPP Golkar, Erwin Aksa, Waketum DPP Golkar, Nurdin Halid, mantan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, Anggota DPD Tamsil Linrung, serta mantan calon wakil gubernur, Aziz Qahar Mudzakkar. Dan tentunya sang Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman.

Analis politik Sulsel, Juanda H Alim menilai, tanpa adanya petahana, maka persaingan Pilgub Sulsel mendatang akan ketat.

“Tentu memberikan nuansa politik berbeda, jika pak NA tak maju. Maka figur bermunculan bersaing leluasa. Dan kelihatan seksi karena saling kejar elektabilitas,” jelasnya, Senin (1/3/2021).

Khusus bagi Danny Pomanto, kata Juanda, secara geopolitik tak punya akar kuat. Tapi ia bisa merebut Makassar dengan pemilih majemuk.

“Danny pasti bisa merebut di atas 30 persen suara Makassar. Makassar punya populasi pemilih terbanyak. Jika angka partisipasi bisa didorong lebih tinggi, 30 persen itu sangat besar,” jelas Juanda.

Sementara itu Adnan akan menjadi figur paling dihitung karena latar geopolitiknya. Adnan merepresentasi kelompok pemilih selatan selatan (Makassar). Dengan populasi pemilih terbesar ketiga setelah Makassar dan Bone, Gowa bisa menyumbang limpahan suara besar bagi Adnan.

“Kan dulu cerminnya di era SYL. SYL menang Pilgub 2 kali. Itu tak bisa dilepaskan dari suara Gowa yang ia rebut sangat signifikan. Plus Takalar, Jeneponto dan duo Toraja. Nah saya melihat Adnan ada di situasi itu di 2024 nanti,” terang Juanda.

Melihat kansnya, Adnan kemungkinan tak akan maju sebagai calon wagub. Ia akan didorong untuk maju 01. Adnan tetap dengan opsi membuat poros baru.

Selanjutnya Indah Putri kata Juanda juga cukup potensial. Seperti Adnan, ia merepresentasi kekuatan geopolitik Luwu. Khusus Lutra populasi suara tak begitu besar.

Lanjut dia, Indah adalah bupati perempuan pertama di Sulsel, merepresentasi kaum hawa. Isu keterwakilan perempuan juga bisa menjadi kekuatan Indah di pilgub nanti.

“Indah juga bisa merebut Luwu Raya. Ia bisa menyatukan Luwu dengan isu keterwakilan daerah itu. Selama ini kan Aziz Qahhar menjadi figur Luwu yang paling sering malang melintang di pilgub,” terangnya.

Pengamat Politik Unismuh Makassar, Luhur Andi Priyanto berpandangan, kasus hukum yang dialami Nurdin Abdullah atau NA tentu punya dampak pada tingkat persaingan di Pemilihan Gubernur 2024. Sehingga membuka peluang persaingan terbuka lebar.

“Jika kita melihat, kompetisi akan lebih terbuka. Tanpa NA persaingan Pilgub Sulsel tentu lebih terbuka. Terutama membuka asa, para bupati dan wali kota berprestasi untuk tampil kontestasi Pilgub 2024 nanti. Termasuk para pimpinan partai,” ujar Luhur.

Menurutnya, figur yang kini disebut-sebut di media punya kemampuan mampuni maju di pilgub. Bahkan sudah menyiapkan strategi khusus. “Mereka tampil di permukaan media. Figur-figur ini cukup kuat,” katanya.

Sementara itu, pengamat politik Universitas Hasanuddin, Andi Ali Armunanto, menilai kasus yang menyeret NA ini bisa saja menjadi keuntungan untuk kubu Sulaiman, khususnya bagi Amran Sulaiman untuk mewujudkan mimpinya menjadi wakil Presiden.

“Ini menjadi buah simalakama untuk Amran. Soalnya peluangnya di Pilgub tertutup. Sebab, kalau wagub bisa menyelesaikan tugas dengan baik sebagai 01, tentu saja dia yang didorong dan Amran tidak mungkin bertarung,” jelasnya.

Sebab, menurut Ali, sekalipun hal ini menutup peluang Amran Sulaiman maju di Pilgub Sulsel, tetapi ada keuntungan lebih besar yang bisa didapatkan. Sebab, posisi Amran di kontestasi Pilgub Sulsel secara otomatis bakal diduduki oleh adiknya sendiri (Andi Sudirman Sulaiman).

“Pak Amran tentu harus mereset ulang semuanya. Fokusnya sudah beralih ke Pilpres, dan momen ini bisa saja jadi jalan tol bagi dia di Pilpres mendatang,” tuturnya.

Lebih jauh Ali mengatakan, secara otomatis Amran Sulaiman tidak akan maju lagi di kontestasi Pilgub Sulsel, tetapi langsung mengarah ke pertarungan Pilpres sebagai 02.

“Semua persiapan menuju Pilgub pasti langsung ditutup, kemudian dialihkan untuk adiknya. Tentu saja ini keuntungan besar kalau bicara basis massa, apalagi kalau pak wagub menang di Pilgub mendatang,” ungkapnya.

Manajer Riset Celebes Research Center (CRC) Muhammad Nur Hidayat pun mengatakan bahwa Nurdin Abdullah cenderung memiliki elektabilitas paling tinggi dibanding beberapa tokoh yang lain.

“Cuman calon-calon (lain, red) kan memang ibaratnya belum start. Jadi belum bisa ngukur sejauh mana. Sebenarnya sih data terakhir kita, Pak Nurdin Abdullah masih di atas 50 persen, besar peluangnya,” kata Nur Hidayat.

Beberapa nama yang sempat disebut memiliki peluang untuk maju dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) mendatang, adalah Rusdi Masse, Andi Irwan Aras, Andi Amran Sulaiman, Danny Pomanto, Taufan Pawe, Adnan Purichta, Indah Putri Indriani, dan beberapa tokoh lainnya.

“Bisa jadi lawan, bisa jadi kawan. Kondisi politik kita tidak tahu kedepannya seperti apa. Cuman nama-nama itu tadi nggak akan jauh-jauh,” jelasnya.