oleh

Ratu Alkes Terseret Dugaan Korupsi NA

Armansyah-Berita, Korupsi-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Ratu Alkes asal Makassar, Imelda Obey jadi saksi dugaan tindak pidana korupsi berupa suap dan gratifikasi yang menyeret Gubernur Sulsel nonaktif, Nurdin Abdullah (NA).

Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri membenarkan hal tersebut, ia mengatakan Kamis, 25 Maret kemarin, dilakukan pemeriksaan saksi NA terkait suap perizinan dan pembangunan infrastruktur di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun Anggaran 2020 2021.

“Dua saksi diperiksa yaitu Imelda Obey dan M Ardi,” ucap Ali Fikri, Kamis (25/3).

Imelda Obey merupakan wiraswasta sementara M Ardi merupakan pegawai BUMN. “Perkembangan informasi selanjutnya akan kami sampaikan nanti,” sebutnya.

Imelda Obey sangat terkenal di Sulsel, ia merupakan pengusaha alat kesehatan dan sering menangani proyek alkes di Sulsel. Ia adalah pemilik perusahaan PT. Inaho Jaya Lestari yang beralamat di jalan Tentara Pelajar, dan juga bagian dari perusahaan PT. Naura Permata Nusantara.

Di laman LPSE Sulsel, tahun 2010 PT Inaho Jaya Lestari menangani proyek pengadaan alat kedokteran, kesehatan dan, KB di RS ibu dan anak Pertiwi dengan nilai HPS Rp1,96 miliar.

Selanjutnya tahun 2012, perusahaan ini juga memenangkan lelang paket yang sama di RS Nene Mallomo Sidrap dengan nilai HPS Rp14 miliar.

Sementara PT Naura Permata Nusantara juga memenangkan lelang askes RSUD Haji Makassar pada tahun 2018 dengan nilai HPS Rp16,8 miliar. Tender tersebut hanya diikuti 13 peserta.

Bukan sebatas pengusaha, Imelda Obey juga terkenal sebagai makelar Askes. Bukan kali pertama, Imelda Obey acap kali keluar masuk ke Kantor Kejaksaan untuk diperiksa, namun selalu saja lolos dari laporan-laporan yang disangkakan.

Salah satu skandalnya yakni dugaan manipulasi, korupsi, pengaturan lelang pada pengadaan alkes Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep. Imelda Obey diduga telah memanipulasi alat kesehatan yang diduga berasal dari Jerman.

Kasus lainnya, yakni pengadaan alkes di RSUD Haji Makassar, dimana ia diduga telah bersekongkol dengan Dirut RS Haji untuk memuluskan proyek yang seharusnya e-catalog menjadi lelang. Nilai proyek tersebut sebesar Rp23,6 miliar.

Sebelumnya, Direkur Anti Corruption Committe, Kadin Wokanubun mengatakan, dugaan bagi-bagi proyek ke keluarga, cukong, maupun kerabat dekat sudah terendus pada tahun 2019 lalu, kongkalikong yang dilakukan NA sudah tercium saat pansus hak angket DPRD Sulsel.

Dimana pada saat itu Jumras membeberkan ada 17 pengusaha yang telah mendapat bagi-bagi proyek. Merupakan keluarga dari NA, mulai dari anak, ipar, hingga tim sukses Nurdin.

“Dibalik proyek di Sulsel ada beberapa nama yang disebut terlibat yang hari ini sudah terlibat. Anggu (Agung Sucipto) dekat dengan gubernur sejak lama, dilihat dari beberapa aktivitas proyek selama dia bupati Bantaeng, ini bukan hal baru,” tuturnya.

Travel istri Nurdin, Hakata Tours and Travel juga menjadi langganan Nurdin Abdullah untuk melalukan perjalanan dinas. Bahkan kata Kadir, pada 2019 ada beberapa item yang tidak pada aktivitas birokrasi, melainkan untuk keluarga.

Nurdin sebagai orang nomor satu di Sulsel memberikan lisensi kepada orang-orang terdekatnya untuk masuk menjadi pemegang proyek di Sulsel. “Ini ada perdagangan pengaruh atau konflik interest. Karena ada hubungan spesial perusahaan terhadap gubernur jadi semua perijinan dipermudah,” terangnya.