oleh

Yang Kamu Lakukan Ini Jahat, Bukan Jihad

Editor : Armansyah-Berita, Headline-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Aksi bom bunuh diri menggungcang Makassar. Tepatnya di depan Gereja Katedral, Jalan Kajaolalido, MH Thamrin, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3).

Peristiwa naas itu terjadi pada pukul 10.30 WITA usai ibadah kedua atau misa kedua. Akibatnya, dua orang terduga pelaku meninggal dunia serta 19 korban mengalami luka-luka.

Saat itu, dua orang yang diduga pelaku bom bunuh diri mengendarai motor dan mencoba masuk ke dalam saat transisi menuju ibadah ketiga. Namun, aksi tersebut digagalkan oleh petugas keamanan yang sudah mengamati.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo meminta kepada seluruh masyarakat untuk tidak panik pasca-terjadinya aksi dugaan bom bunuh diri itu.

Sigit menegaskan, pihak kepolisian langsung melakukan penyelidikan dan menggelar olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk mendalami pelaku dari aksi teror tersebut. Korps Bhayangkara menjamin keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) usai aksi tersebut.

“Kami sedang dalami dan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Dan untuk masyarakat tidak usah terlalu panik, kami sedang dalami pelakunya,” kata Sigit.

Sigit menyebut, pihak Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri sejauh ini akan terus melakukan penindakan terhadap para kelompok teroris. Hal itu merupakan komitmen dari Korps Bhayangkara untuk memberangus para jaringan-jaringan tersebut.

Oleh sebab itu, masyarakat tidak perlu cemas dan khawatir. Mengingat, negara hadir dan tidak akan kalah dengan aksi ataupun serangan teror apapun.

Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono menyebut, pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar terdiri dari 2 orang. Para pelaku tersebut, kata Argo, sempat dicegah oleh sekuriti untuk memasuki Gereja.

Argo menjelaskan 2 pelaku tersebut berboncengan menggunakan sepeda motor. Mulanya, keduanya akan memasuki pelataran Gereja Katedral Makassar yang saat itu setelah menggelar misa Minggu Palma.

“Jadi pada awalnya memang pelaku yang diduga menggunakan roda dua ini dia akan memasuki pelataran maupun gerbang Gereja Katedral yang kebetulan jam tersebut sudah selesai kegiatan misa,” kata Argo.

“Kemudian mungkin karena melihat banyak yang keluar daripada gereja, memang saat ini tidak full sesuai dengan protokol kesehatan kan separuh dari jemaah yang hadir di gereja itu,” sambungnya.

Saat akan memasuki gereja, keduanya dicegah oleh sekuriti Gereja Katedral Makassar. Tak lama kemudian, ledakan pun terjadi. “Tentunya dari 2 orang itu tadi yang mau masuk dicegah oleh sekuriti daripada gereja tersebut dan kemudian terjadilah ledakan itu,” kata Argo.

Argo mengaku Kapolri juga langsung memerintahkan Kadensus 88 untuk ke Makassar untuk melakukan pendalaman terhadap aksi tersebut.

“Kemudian berkaitan ini kegiatan teorisme atau bukan tentunya perintah pak Kapolri bahwa Kadensus berangkat ke Makassar dan tentunya di Makassar sudah ada Korwil Densus dibantu serse Polda dan Polrestabes untuk olah TKP. Kami sudah gelar police line disana dan kami juga sudah menyisir benda apa saja sekecil apapun kami olah TKP,” tutup Argo.

Kapolda Sulsel, Irjen Pol Merdisyam menyampaikan, para korban menderita luka berbeda-beda. Mulai berat, sedang, hingga ringan. “Sampai saat ini di RS Bhayangkara ada 7, Siloam 4 dan sisanya di RS lainnya,” jelasnya.

“Kondisi korban ada luka berat dan sedang. Kalau yang ringan sempat diberikan pengobatan ada yang rawat jalan dia sudah pulang,” lanjutnya.

Dia mengatakan korban yang luka ringan sudah ada yang pulang. Sedangkan yang parah atau yang mengalami luka bakar masih dirawat intensif dari dokter dan petugas kesehatan.

Menurut keterangan Pastor Gereja Katedral Makassar, Wilhelmus Tulak, bom meledak setelah jemaat gereja melakukan Misa kedua. “Peristiwa terjadi setelah kami selesai ibadah kedua, Misa kedua,” ujarnya.

Diduga, pelaku bom bunuh diri berusaha masuk ke dalam lokasi Gereja Katedral Makassar dengan mengendarai sepeda motor. Petugas keamanan gereja sudah mencurigai dua orang yang ingin masuk ke dalam lokasi gereja.

Ia menegaskan, ledakan tidak terjadi di pintu masuk gereja tetapi di pintu gerbang gereja. “Umat pulang, yang lain masuk. Datanglah pelaku bom bunuh diri itu naik motor ke dalam lokasi. “Tetapi sudah diamati oleh petugas keamanan kami,” jelas pastor Wilhelmus Tulak.

“Lalu dia menahan di depan pintu (gerbang) itu, dan di situlah terjadi ledakan,” ungkapnya.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla, mengutuk keras peristiwa aksi bom bunuh diri ini. Mantan Wakil Presiden RI ini berharap aparat segera mengungkap motif serta menangkap jaringan pelaku yang berada di balik aksi keji tersebut.

“Saya mengutuk keras aksi pengeboman tersebut,” ujar JK.

Jusuf Kalla yang juga Ketua PMI, menegaskan segala bentuk teror tidak boleh ditoleransi. Semua agama disebutnya tidak membenarkan aksi-aksi terorisme.

“Kita tidak bisa mentoleransi segala bentuk teror karena dalam agama apa pun tindakan itu tidak dibenarkan” terangnya.

Ketua Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Sulawesi Selatan (Sulsel), Hamzah Harun Al Rasyid menganggap aksi bom bunuh diri ini langkah dari pelaku aksi teror untuk membuat masyarakat Sulsel merasa tidak aman. Aksinya itu adalah tindakan radikal.

“Sebagai bangsa yang sedang berjuang untuk menghadirkan keamanan dan kedamaian untuk seluruh warga bangsa tentu tetap terluka dan tidak akan pernah mentolerir tindakan radikal seperti ini,” jelas Hamzah.

Ia menyampaikan duka citanya atas insiden bom bunuh diri tersebut. Menurutnya aksi teror bom hingga mengancam nyawa seseorang bukanlah ajaran setiap agama yang ada.

“Aksi terorisme bukan jihad, tidak ada ajaran dan perintah dalam Islam yang melegitimasi aksi-aksi terorisme begitu pun dengan agama lainnya,” tandasnya.

Ia berharap pihak TNI dan Polri untuk segera mengusut kelompok atau pelaku bom bunuh diri tersebut. “Semoga TNI/Polri segera mungkin mengungkap kasus ini, agar tidak ada lagi kejadian lanjutan,” pintanya.

Dapat Kecaman Berbagai Pihak

Aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar siang tadi, mendapat kecaman berbagai pihak. Plt Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Andi Sudirman Sulaiman, mengaku prihatin atas insiden pengeboman yang terjadi di Gereja Katedral Makassar.

Ia yang sedang melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Wajo langsung kembali ke Makassar untuk melihat kondisi pasca bom bunuh diri tersebut.

“Innalilahi Wa Innailaihi Roji’un, kami turut berduka atas insiden diduga bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar,” ujar Andi Sudirman.

Sudirman mendukung pihak kepolisian mengusut tuntas kasus ini.”Tentu kami sangat mengecam segala bentuk kekerasan (bom bunuh diri), apalagi menyebabkan orang lain terluka,” ujarnya.

Ia juga minta kepada aparat kepolisian untuk memperketat penjagaan rumah-rumah ibadah untuk menghindari dan mengantisipasi kejadian ini berulang. Sekaligus, meminta partisipasi masyarakat untuk menghindari spekulasi dan hoax.

“Kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, jurnalis media dan pihak keamanan, mari bersinergi untuk memberikan informasi yang jernih kepada masyarakat sambil menunggu hasil investigasi lebih jauh,” imbaunya.

Teruntuk masyarakat Sulsel, dimohon meningkatkan kewaspadaan agar dapat menimimalisir potensi-potensi gangguan keamanan dan stabilitas di tengah masyarakat.

Ketua DPD I Golkar Sulsel, Taufan Pawe juga mengecam dan mengutuk keras tragedi itu. Taufan Pawe mengatakan, Partai Golkar Sulawesi Selatan mengutuk keras segala bentuk terorisme yang melanggar Hak Asasi serta dapat memecah belah persatuan umat beragama di Sulawesi Selatan.

“Terorisme bukanlah ajaran agama apapun di dunia ini, keji dan bertentangan dengan peri kemanusiaan,” tegas Taufan.

Wali Kota Parepare bergelar Doktor di bidang hukum ini meminta dengan tegas agar pihak kepolisian mengusut tuntas aksi tersebut. “Kami berharap kejadian ini segera diusut tuntas oleh pihak Kepolisian, tidak ada ruang gerak bagi pelaku teror,” tegas Taufan.

Taufan menyampaikan, DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan menyatakan turut berduka yang sedalam-dalamnya, atas tragedi teror yang terjadi di Gereja Katedral Makassar itu.

“Semoga korban dan seluruh jemaat tetap dalam keadaan sehat, aman, dan dilindungi oleh-Nya,” harap Taufan.

Sementara itu, tokoh pemuda nasional, Andi Yuslim Patawari (AYP) mengecam keras aksi tersebut. AYP menyesalkan aksi yang menyebabkan 9 orang luka-luka itu.

Ia juga meminta tokoh agama, tokoh masyarakat, terlibat aktif memberi ketenangan kepada warga, karena hal ini bukan hanya kewenangan pemeritah.

“Khusus kepolisian agar lebih fokus mengantisipasi kejadian seperti ini. Fungsi intelkam harus berjalan, jangan hanya pada proses penindakan seperti yang dilakukan beberapa bulan lalu ada penangkapan teroris di Sulsel, tapi juga fokus pencegahan, lebih mendekati kelompok-kelompok dalam tanda kutip ekstrim, agar kembali ke doktrin yang benar,” kata AYP.

Dewan Pembina Yayasan Gerak Bersama Indonesia (YGBI) ini berharap agar aparat kepolisian tetap semangat, namun jangan terlena dengan kondisi keamanan yang kondusif, sebab ancaman bisa terjadi dimana-mana.

“Seperti peristiwa hari ini, dan saya atas naman pribadi dan YGBI mengucapkan duka cita mendalam kepada keluarga korban dan berharap aparat kepolisian mengambil langkah taktis di lapangan sehingga kejadian seperti ini tidak terulang lagi dan suasana di Makassar bisa tetap aman dan kondusif,” ujar AYP.

AYP yang juga mantan Ketua DPP KNPI Pusat ini menambahkan, peran menghadapi teroris adalah peran bersama, bukan hanya pemrintah atau kepolisian.

“Doktrin bom bunuh diri itu salah, pendekatan untuk menghilangkan atau memerangi terorisme bukan hanya pendekatan militer atau bersenjata, tapi harus ada pendekatan spritual dan semua orang harus terlibat didalamya,” harap AYP. (E)