oleh

Lanjutan Sidang Agung Sucipto, NA Akui Terima Uang

Editor : Any Ramadhani-Headline, Hukum, Korupsi-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Nurdin Abdullah (NA) mengakui pernah menerima uang dari terdakwa Agung Sucipto sebanyak 15.000 dollar Singapura.

Hal tersebut diakui Nurdin saat hadir secara virtual sebagai saksi di persidangan Agung Sucipto alias Anggu di Pengadilan Negeri (PN) Makassar, Kamis (10/6).

Nurdin Abdullah mengatakan uang tersebut diberikan Agung Sucipto untuk pemenangan Pilkada Bulukumba.

“Uang itu untuk bayar saksi, baju partai dan alat peraga di Pilkada Bulukumba, bukan untuk pribadi saya dan tidak terkait dengan proyek,” terang Nurdin Abdullah.

NA menyebutkan, khusus pelaksanaan Pilkada Bulukumba, dirinya bersama dengan Agung Sucipto bersepakat untuk mendukung salah satu pasangan calon.

Kesepakatan jatuh kepada kandidat Tommy Satria yang saat itu menjabat sebagai wakil bupati.

Nurdin Abdullah dalam persidangan mengaku mengenal Agung Sucipto sejak menjabat sebagai Bupati Bantaeng.

“Jadi itu (dollar Singapura dari Agung Sucipto) untuk Pilkada, tidak terkait proyek. Karena kita sudah sepakat mengusung seorang calon di sana. Tiba-tiba Anggung datang bawa uang itu,” ujar Nurdin Abdullah.

Saat persidangan, JPU KPK, Ronald Worotikan mencecar Nurdin Abdullah soal pertemuan dengan terdakwa di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel. Dalam pertemuan tersebut, JPU KPK menanyakan adanya uang sebesar 150 ribu dolar Singapura diserahkan terdakwa Agung Sucipto ke Nurdin Abdullah.

“Apakah dalam pemberian itu, ada pembahasan yang lain,” tanya jaksa.

“Itu uang saksi, beliau memang menyampaikan kami siap dukung, jadi itu bukan untuk pribadi saya, tapi itu untuk pilkada Bulukumba,” jawab NA.

“Apakah uang tersebut saudara terima”? tanya jaksa lagi.

“Saya terima,” jawab Nurdin. “Uang itu digunakan untuk apa? lanjut jaksa.

“Untuk calon kita yang ada di Bulukumba, Tomy Satria dan Andi Makkasau,” kata NA.

Mendengar jawaban Nurdin, jaksa KPK kembali bertanya ke Nurdin soal apakah Anggu sebagai pengusaha meminta diperhatikan sebagai peserta tender di Pemprov Sulsel.

Jaksa heran dana senilai Rp 1,5 miliar dari pemberian SGD 150 ribu itu hanya untuk paslon di Pilkada.

“Sama sekali tidak ada (permintaan khusus Anggu terkait proyek). Ini murni untuk pilkada Bulukumba,” kata Nurdin.

Dalam sidang itu, NA juga mengaku menerima uang dari kontraktor lain. Salah satunya dari Fery Tanriady. Alasannya uang itu untuk digunakan membangun masjid.

“Singapur dollar 190 ribu, dan satu lagi Rp62 juta di rumah pribadi. Jadi itu kan bantuan masjid dari Pak Fery, mohon izin pak, Fery 3 kali datang ke rumah menyampaikan dana operasioanal, saya bilang jangan, kalau mau continue pekerjaan berkualtias,” kata Nurdin.

“Kebetulan untuk membangun masjid di perumahan dosen, kalau mau bantu masjid silahkan,” sambung NA.

Apakah saat itu Fery memberikan langsung kepada yayasan atau langsung ke saudara (NA)? tanya jaksa.
Temuannya dirumah pribadi saudara? Pada saat itu saksi pak Fery ini, memberikan sesuatu kepada saudara

“Waktu itu tidak, melalui Syamsul,” jawab Nurdin.

Apakah uang itu disimpan di rumah saudara? tanya jaksa lagi.

Nurdin mengaku uang tersebut ditukarkan ke dalam dollar Singapur sesuai kesepakatan dengan salah satu panitia. Mendengar hal tersebut hakim kemudian mencecar Nurdin Abdullah.

Kesepakatan siapa untuk ditukar? kata Hakim.

“Saya dan kesepakatan salah satu panitia (Pak Latif) panitia masjid, di Kompleks Dosen Unhas,” jawab NA.

Ini kan mau digunakan untuk masjid, tujuannya apa ditukar uang dollar, sedangkan uang yang dipakai kan uang rupiah, kenapa saudara saksi tukarkan uang dollar, kan ini patut kita pertanyakan? tanya hakim lagi.

“Tujuannya itu ditukar dari 10.000 dan kalau ditukarkan 11.000, untuk laba,” kata Nurdin.

Selain saudara menerima dari Fery darimana lagi? kata Jaksa melanjutkan.
“Dari pak Haeruddin Rp 1 miliar ,” ucap NA.

Saat ditanya jaksa KPK apakah mengenal kontraktor H Momo, Nurdin mengaku mengenalnya. “Ia (H Momo kerjakan proyek Sulsel) di (Kabupaten) Wajo, ” kata Nurdin.

Nurdin lalu juga mengaku kenal sejumlah nama kontraktor yang ditanyakan jaksa KPK, seperti Petrus, Andi Kemal, Jusuf Rambe, Robert, dan H Indar.

Jaksa KPK juga menanyakan Nurdin soal kesaksian eks Kabiro Pengadaan Barang dan Jasa Sulsel Sari Pudjiastuti yang mengaku diperintahkan Nurdin meminta uang dari kontraktor.

“Ibu Sari mengatakan selain saudara mengarahkan memenangkan perusahaan, saudara juga menerima uang,” kata jaksa KPK kepada Nurdin Abdullah dalam sidang.

Nurdin langsung membantah semua kesaksian Sari dalam sidang sebelumnya. Di awal kesaksian Nurdin Abdullah, jaksa KPK juga mengkonfrontasi Nurdin soal beberapa kali memanggil Sari ke rumah pribadi di Perumahan Dosen (Perdos) Unhas.

Jaksa KPK bertanya, apakah benar Nurdin memanggil Sari ke rumah pribadi untuk menitip memenangkan pengusaha tertentu yang mengikuti tender proyek.

“Ini kami tanyakan, kami mohon jujur, karena ini di persidangan sebelum nya kami juga pernah memeriksa Ibu Sari, terkait pemanggilan ke rumah saudara di perumahan dosen, ini kami minta kejujuran saudara. Apakah saat saudara memanggil ibu Sari ada saudara sampaikan ke ibu Sari paket mana saja yang dimenangkan perusahaan tertentu?” tanya Jaksa KPK lagi.

Lag-lagi Nurdin Abdullah bersumpah dan membantah keterangan Sari. “Saya bersumpah JPU, bahwa ibu Sari tidak memberikan penjelasan yang sesungguhnya tentang saya,” tegas Nurdin.

Nurdin mengaku kecewa dengan keterangan Sari di persidangan sebelumnya yang menuding dirinya menitip dan mengarahkan untuk memenangkan pengusaha peserta tender pada proyek tertentu di Sulsel.

“Saya sangat kecewa, kok tiba-tiba orang ini lupa semua, padahal saya sudah memberikan contoh yang baik,” kata Nurdin Abdullah.

Namun apa yang dikatakan Nurdin Abdullah jika telah memberikan contoh yang baik kepada bawahannya langsung ditentang oleh Jaksa.

“Kalau saudara (NA) baik, mengapa menerima 1500 dollar,” terang Jaksa.

Nurdin juga terus membantah kalau dirinya tidak pernah melakukan intervensi dan tidak pernah menarik fee proyek dari para kontraktor. (*)